Polda NTB Siagakan Pasukan Antisipasi Bencana

Polda NTB menggelar Operasi Kontijensi Aman Nusa siaga bencana, Selasa, 11 Februari 2020. Sebanyak 2.171 personel disiagakan untuk menghadapi potensi bencana di NTB.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Puncak musim penghujan Februari ini mulai menjelang. Masyarakat diminta mewaspadai bencana alam seperti banjir, longsor dan puting beliung. Polda NTB menyiagakan sekurangnya 2.000 pasukan siaga bencana.

Pasukan tersebut tergabung dalam Operasi Kontijensi Aman Nusa II. Penyiagaan pasukan tersebut menanggapi potensi bencana di NTB. Pasukan sudah tergelar sejak Selasa, 11 Februari 2020 dalam apel gelar pasukan yang dipimpin Kapolda NTB Irjen Pol Tomsi Tohir.

Iklan

“Personel yang dilibatkan sebanyak 2.171 orang,” ucap Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto dikonfirmasi usai apel. Rinciannya, 10 Polres di bawah Polda NTB mengerahkan masing-masing 154 personel. Kondisi geografis NTB berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Dilewati jalur cincin api dengan gunung api aktif seperti Gunung Rinjani, Gunung Tambora, dan Gunung Sangiangapi. Sementara pada Februari ini prediksi hujan lebat dan angin kencang akan melanda.

Hal itu membuat NTB rawan bencana seperti banjir bandang, abrasi rob, gelombang tinggi, tanah longsor, puting beliung, kebakaran hutan, gunung meletus, kekeringan dan kebakaran hutan. Di sisi lain, NTB menyimpan kekayaan alam berupa batuan mineral yang memancing masyarakat untuk menambang secara liar. Penambangan ilegal tidak melihat dampak lingkungan. Akibatnya, perubahan ekologi dapat memicu bencana baru.

“Polri dalam hal ini diharapkan menjadi pasukan terdepan dalam menangani bencana,” kata Artanto. Untuk menguji kesiapan personelnya, apel digelar untuk pemeriksaan pasukan dan peralatan pencarian dan penyelematan. “Kita menghimpun kekuatan untuk ikut serta berpartisipasi dalam usaha penanggulangan bencana alam baik dalam memitigasi dan penanganan pascabencana,” jelasnya.

Kapolda NTB, sambung Artanto, menekankan agar anggota kepolisian di lapangan proaktif menyampaikan perkembangan situasi daerah rawan bencana. Berikut rencana mitigasi yang disiapkan apabila sewaktu-waktu terjadi bencana. “Anggota juga diminta untuk meningkatkan kemampuan SAR dengan latihan secara rutin dan berkala, urainya.

Artanto menambahkan, penanganan bencana dioptimalkan dengan sinergitas bersama instansi lain. Koordinasi itu untuk menguatkan deteksi dan informasi dini kejadian bencana sehingga penanganan dapat berjalan maksimal. (why)