Polda NTB Bongkar Kedok Pemalsuan Surat Bebas Covid-19

Tersangka pemalsuan surat bebas Covid-19, EZZ alias Zul (kanan) dibawa menuju ruang tahanan Polda NTB, Jumat, 29 Januari 2021.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Sebanyak 15 warga batal keluar wilayah NTB. Mereka gagal melewati pos pemeriksaan Covid-19 di Pelabuhan Lembar, Lembar, Lombok Barat. Pasalnya, surat keterangan bebas Covid-19 dengan hasil tes negatif mereka ternyata palsu.

Hal itu terungkap saat surat tersebut dicurigai keabsahan isinya. “Seolah-olah surat tersebut dikeluarkan laboratorium klinik padahal kenyataannya dibuat sendiri,” kata Dirreskrimum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata didampingi Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto, Jumat, 29 Januari 2021.

Iklan

Keberangkatan 15 warga pada Kamis, 28 Januari 2021 akhirnya batal. Termasuk EZ alias Zul (36) yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Warga Banjar, Ampenan, Mataram ini diduga memalsukan surat keterangan bebas Covid-19 tersebut berbekal peralatan sederhana.

Hari mengatakan, awalnya Zul mendapat panggilan telepon dari rekannya berinisial YAS pada Rabu, 27 Januari 2021. YAS meminta bantuan Zul mengurus dokumen tes cepat yang benar-benar cepat tanpa proses. Sebab, Kamis pagi 15 kawannya hendak berangkat ke luar daerah lewat jalur laut.

Zul pun menyanggupinya. Zul hanya butuh identitas diri 15 kawannya tersebut untuk kebutuhan isi dokumen. “Tersangka membuatkan surat keterangan bebas Covid-19 dengan hasil negatif,” sebut Hari.

Surat tersebut sekilas memang tampak asli meyakinkan. Zul membuatnya dengan berbekal contoh dokumen asli yang memang pernah dikeluarkan sebuah lab klinik di Mataram. Dokumen asli ini lalu dipindai. “Di komputer isinya direkayasa seolah-olah asli sesuai nama-nama mereka yang hendak bepergian tersebut,” imbuh Artanto.

Zul kemudian meminta ganti ongkos ketik dan cetak. Setiap orang diminta mengganti sebesar Rp100 ribu. Jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya tes cepat antigen pada umumnya. Zul meraup untung Rp1,5 juta.

Barang bukti yang disita antara lain uang tunai, perangkat komputer, mesin printer, stempel, dan tiga ponsel. Sejumlah perangkat itu diduga dipakai Zul untuk merekayasa surat keterangan bebas Covid-19.

Artanto mengatakan, Zul sudah ditangkap pada Kamis lalu. Berbekal kesaksian dan bukti-bukti, Zul dijerat dengan pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen yang ancaman pidananya paling lama enam tahun. Sementara Zul mengaku, perbuatannya itu dilakukannya semata untuk membantu temannya. Dia tidak menyiapkan khusus peralatan untuk pemalsuan. “Alasannya hanya untuk membantu saja. (Alatnya) inventaris masjid,” jelas sambil digiring menuju ruang tahanan. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional