Polda NTB Bidik Proyek Impor Bibit Bawang Putih Sembalun

Mataram (Suara NTB) – Proyek pengadaan 78 ton bibit bawang putih impor untuk dibudidayakan di Sembalun, Lombok Timur jadi bidikan baru Polda NTB. Selain diduga berpenyakit, bibit diduga tidak sesuai spek karena jenisnya termasuk bawang konsumsi. Pihak-pihak yang terkait dengan pengadaan itu akan dipanggil untuk klarifikasi.

Subdit I Industri dan Perdagangan (Indag) Ditreskrimsus Polda NTB informasinya mulai bergerak melakukan pendalaman bukti serta informasi pendukung.

Iklan

‘’Memang sampai saat ini belum ada laporan masuk dari masyarakat soal ini (bibit bawang). Tapi dengan adanya pemberitaan media dan informasi yang beredar, kita jadikan bahan lidik, ‘’ ujar Kasubdit I Indag Ditreskrimsus Polda NTB, AKBP Boyke Karel Wattimena, SIK menjawab Suara NTB di ruang kerjanya, Rabu, 29 November 2017.

Dari informasi awal yang didapatnya, bawang putih impor 78 ton itu dari Cina oleh empat perusahaan di Jakarta dan Surabaya, difasilitasi PT. KTS. Bawang putih itu kemudian masuk ke Sembalun melalui seorang ketua kelompok tani di sana.

Informasi awal lainnya, indikasi pelanggaran diduga pada impor itu tidak melalui proses pemeriksaan Balai Karantina Tumbuhan Mataram. Pada proses ini akan ditelusuri indikasi pidananya karena tidak melalui pemerisaan Karantina. Selain indikasi pelanggaran pada tahap impor.

‘’Kita akan cek bagaimana bibit bawang putih itu masuk sampai dengan ditanam oleh petani. Karena kabarnya tidak lewat pemeriksaan Karantina karena alasan bawang impor itu jenis konsumsi  bukan bibit,’’bebernya.

Belum lagi soal spesifikasi barang yang seharusnya bibit tapi didatangkan justru bawang konsumsi. ‘’Itu (spesifikasi) juga kita perdalam lagi,’’ jelasnya.

Diperoleh informasi, dengan masuknya bibit bawang putih itu memicu keresahan masyarakat. Sebab ada indikasi bibit itu mengandung penyakit atau Organisme Pada Tanaman (OPT). ‘’Apalagi itu, kabarnya ada penyakitnya, kita dalami juga,’’tandasnya.

Pendalaman akan diawali dengan pemanggilan pihak-pihak terkait. Seperti Balai Karantina Tumbuhan Mataram, Balai Pengawasan dan  Sertifikasi Benih Pertanian (BPSB-P)  Provinsi NTB.

Catatan Suara NTB sebelumnya, ihwal datangnya bibit bawang putih ini, ketika pemerintah mengalami keterbatasan bibit bawang putih. Sehingga tidak bisa memenuhi target luasan areal tanam 1.750 hektar.  Sementara kemampuan benih sangat terbatas hanya sekitar 300 hektar. Sehingga keputusannya dilakukan impor melibatkan sejumlah perusahaan.

Namun potensi dugaan ada masalah sebenarnya sudah tercium, karena menurut Wakil Bupati Lotim, H.Haerul Warisin, bawang putih tesebut ternyata labelnya konsumsi, bukan bibit. Pemkab Lotim sendiri tidak tahu apakah bibit yang ditanam itu berlabel atau tidak. Sebab tiba-tiba saja dikabarkan ada bibit dari Tiongkok.

Informasi dari Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian , H Badarudin yang dikonfirmasi terpisah menuturkan, ada namanya PT. KTS salah satu perusahaan yang memfasilitasi beberapa importir untuk bekerjasama dengan petani di Lotim.

Sementara Direktur PT. KTS, Fitriansyah hingga berita ini ditulis Rabu, 29 November 2017 sore kemarin, belum bersedia memberi keterangan dengan alasan sibuk. (ars)