PN Mataram Kirim Berkas PK Nuril ke MA

Baiq Nuril Maknun menjawab pertanyaan wartawan usai sidang pemeriksaan berkas permohonan PK di Pengadilan Negeri Mataram, 3 Januari 2019 lalu. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) –  Upaya hukum terpidana kasus ITE Baiq Nuril Maknun mencari keadilan maju selangkah demi selangkah. Berkas permohonan Peninjauan Kembali (PK) mantan pegawai honorer SMAN 7 Mataram ini dikirim ke Mahkamah Agung (MA) RI.

Juru Bicara Pengadilan Negeri Mataram, H. Didiek Jatmiko mengungkapkan, berkas PK Nuril  dikirim ke MA RI pada Jumat, 25 Januari 2019 lalu. “Iya berkasnya sudah dikirim,” ujarnya Selasa, 29 Januari 2019. Dia menambahkan selanjutnya MA RI setelah menerima berkas akan menetapkan majelis hakim PK. Majelis PK tersebut nantinya yang akan memeriksa permohonan PK Nuril.

Iklan

“Ya sekarang tinggal menunggu. Majelis memeriksa PK nanti putusannya apakah menerima atau menolak,” kata Didiek. Sebelumnya diberitakan, Nuril yang dihukum majelis kasasi MA RI mengajukan PK pada Rabu, 3 Januari 2019 lalu. Permohonan PK diajukan setelah MA RI menghukum Nuril bersalah di tingkat kasasi.

Hakim kasasi menjatuhi Nuril vonis penjara 6 bulan dan denda Rp500 juta, dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka wajib diganti dengan kurungan selama 3 bulan. Hakim kasasi menilai Nuril terbukti bersalah melanggar pasal 27 ayat 1 juncto pasal 45 ayat 1 UU RI No 11/2008 tentang ITE.

Nuril lantas memohon PK. Isinya antara lain memohon MA untuk mengabulkan PK dan memohon pembatalan putusan kasasi MA dengan membebaskan Nuril dari dakwaan serta memulihkan hak kemampuan, kedudukan, harkat, dan martabatnya.

Nuril menganggap hakim kasasi keliru dengan tidak menguraikan alternatif unsur perbuatan mana yang dianggap terbukti sehingga dia dipersalahkan. Putusan kasasi MA disebutnya tidak memperhatikan nilai pasal 27 ayat 1 UU ITE yang mencegah agar orang tidak melakukan perbuatan asusila.

Fakta persidangan bahwa yang melakukan perbuatan asusila adalah saksi H Muslim terhadap bawahannya, Nuril. Kala itu, H Muslim menjabat Kepala SMAN 7 Mataram sementara Nuril sebagai honorer pada Bagian Tata Usaha.

Saksi H Muslim menceritakan perbuatan asusila tentang hubungan badan dengan seorang perempuan bernama Landriati di Hotel Puri Sharon Senggigi, yang direkam Nuril. (why)