Pleno Tingkat PPK di Kediri Ribut, Perebutan Kursi Terakhir DPRD Lobar Dapil VI Memanas

Foto foto pleno PPK di kediri ribut menyusul keberatan dari pihak saksi mandat partai Nasdem menemukan dugaan kesalahan imput data suara (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Pelaksanaan pleno tingkat PPK Kediri yang digelar akhir pekan ini ribut akibat saksi dari Parpol yang tak terima dengan proses penghitungan suara yang diduga dipermainkan. Sehingga suara salah satu parpol mengalami peningkatan singifikan, padahal pada rekapitulasi awal berdasarkan C1 perolehan suara parpol diurutan ke-9 sehingga berpotensi gagal mendapatkan kursi DPRD Lobar. Akan tetapi pada pleno tingkat PPK, justru perolehan suara parpol ini melambung dan menyalip perolehan suara parpol diatasnya sehingga sekarang caleg dari parpol tersebut berpeluang lolos untuk merebut kursi terakhir DPRD Lobar Dapil V (Kediri-Labuapi).

Atas dugaan permainan ini, pihak Saksi Parpol pun akan menempuh jalur hukum dan melapor ke Bawaslu Lobar. Saksi mandat Partai Nasdem Gede Ahyar mengatakan pihaknya keberatan karena banyak melihat kejanggalan sampai dirinya beberapa kali menegur PPK saat pleno berlangsung. “Disebut 158 suara untuk pindahan suara yang input data ke KPU, tapi ditulis 108. Jadi ada kesalahan input data, seperti itu bentuknya. Bahkan sampai lima kotak. Barulah mereka ubah setelah kami tegur,”tegas Gede Ahyar. Petugas PPK pun selalu menyampaikan alasan bahwa salah input data, namun kalau tidak ditegur maka akan dibiarkan saja.

Iklan

Di TPS Gelogor pun kata dia terjadi hal demikian, begitu masuk pleno justru perolehan suaranya diduga diubah. Begitu ditegur saksi, petugas mengubah lagi perolehan suara tersebut. Perolehan suara ini kata dia berbeda dengan C1sebab penjumlahan suara salah akibat  kesalahan input data. Bahkan kata dia kesalahan input data ini terjadi di banyak TPS. “Ini permasalahan yang kita temukan,”tegas dia. Setelah dicek kata dia, ada suara sejumlah partai yang diambil  untuk mendongkrak salah satu partai yang diduga bermain.

Partai ini kata dia perolehan suaranya di dapil V hanya diurutan 9 dengan total 3.200 lebih namun tiba-tiba pada saat penghitungan pleno PKK naik menjadi 4.700 lebih. Di Labuapi saja kata dia, berdasarkan form C1 suara yang diperoleh hanya 800 suara lebih namun naik menjadi 2 ribu lebih. Sedangkan suara parpol Nasdem saat itu berada di posisi 8,  jauh jarakmya dengan parpol tersebut. “Kami sebenarnya pada posisi 8, karena berdasarkan form C1,”jelas dia.

Namun dengan indikasi permainan inilah parpol tersebut terdongkrak sehinngga kata dia mengklaim berpeluang lolos di DPRD Lobar.  Di dapil V sendiri perolehan suara terbanyak sementara diperoleh oleh PKS, Gerindra, Golkar, Berkarya, PPP, PAN barulah Nasdem. “Tapi kok setelah pleno PPK, posisinya berubah jadi partai lain itu di atas kita (urutan 8),”tegas dia.

Awalnya pihaknya tak terpikir kalau suara parpol ini bisa signifikan, sebab perolehan suaranya jauh di bawah Nasdem.  Langkah selanjutnya, pihaknya akan menempuh jalur hukum. Selain itu, pihaknya menempuh jalur partai dengan melaporkan temuan ini ke Bawaslu Lobar. Pihaknya memiliki bukti baik, form C1, dokumen dan bukti lain seperti rekaman serta foto. “Kita akan lawan, karena ini hak kita kami akan adukan ke Bawaslu dan pidanakan bila perlu,”tegas Gede Ahyar.

Menanggapi temuan saksi parpol ini, ketua PPK Kediri Safitri mengatakan, mencuatnya protes saksi Nasdem berawal dari komplain di TPS 19 terkait  suara.  Kemudian secara prosedur tidak harus sampai membuka kotak suara, namun setelah dikoordonasi dengan Panwas untuk melihat C1 plano. Setelah ada rekomendasi bawaslu akhirnya kotak suara dibuka, disaksikan ketua KPPS dan Panwaslu dan para saksi. Pihaknya selanjutnya membandingkan C1 yang dipegang dengan yang ada di KPU dengan Bawaslu, ternyata setelah dibandingkan datanya sama.  “Data yang dipegang saksi Nasdem itu keliru, tidak ada kesalahan di kami,” tegas dia.

Kesalahan yang dimaksud mungkin ketika input dari C1 plano yang dikutip menjadi C1 kecil. Dalam input data ini menurut dia, kemungkinan ada kekeliruan namun sudah diperbaiki. “Mungkin ada saja kekeliruan input tapi sudah kita diperbaiki,” tegas dia.

Terkait langkah Nasdem menempuh jalur hukum dan melaporkan ke Bawaslu, pihaknya menyerahkan sepenuhnya ke pihak Nasdem. Yang jelas pihaknya menggunakan dan mempertanggung jawabkan data hasil perolehan suara yang sudah direkap di PPK “Tidak ada permainan, karena kami bekerja sesuai dengan prosedur,” tegas dia.  (her)