PKB Butuh Waktu Lebih Lama Putuskan Dukungan di Pilkada Loteng

Lalu Pelita Putra. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – PKB memastikan masih membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk bisa menetapkan arah dukungannya di Pilkada Kabupaten Lombok Tengah. Pasalnya dari tujuh daerah di NTB yang akan melaksanakan Pilkada 2020. Pilkada Lombok Tengah dinilai tingkat dinamika politiknya paling tinggi.

“Masing-masing daerah memang punya dinamika politik yang berbeda-beda, nah Loteng ini sangat tinggi. Disamping itu PKB sendiri mau mengusung dan mau menang, sehingga PKB betul-betul melaksanakan proses ini dengan sangat hati-hati,” ujar Ketua DPC PKB Lombok Tengah, Lalu Pelita Putra saat dikonfirmasi di DPRD NTB, Senin, 2 Maret 2020.

Iklan

Mengingat tenggat tahapan Pilkada 2020 masih cukup lama, di mana tahapan pendaftaran pasangan calon ke KPU dilaksanakan pada Bulan Juni. Sehingga PKB melihat masih punya banyak waktu untuk melakukan pendalaman-pendalaman terkait dengan figur yang akan mereka usung, sembari mengikuti perkembangan dinamika politik yang terjadi.

“Kita tidak mau sekedar mengusung, tapi kemudian kalah. Karena itu banyak hal yang harus kita pertimbangkan, kita serap informasi ini paling tidak sampai sebelum pendafataran di KPU tutup. Tapi kita harapkan dalam satu bulan ke depan sudah ada gambaran kepada siapa PKB berikan rekomendasi dukungannya,” kata Pelita.

Disampaikan Pelita, PKB saat ini tengah melakukan survei elektabilitas terhadap figur-figur yang potensial untuk diusung. Ia memastikan PKB akan menjatuhkan dukungan kepada figur yang memiliki kans besar untuk memenangkan Pilkada, dan itu tergambar dari hasil survei.

“Kita ingin realistis, tidak ingin kedepankan nafsu syahwat politik belaka. Tapi kita mau yang terbaik untuk kita dorong maju. Sehingga perlu hati-hati sekali kita,” tegasnya.

Diketahui, Pelita selaku Ketua DPC PKB Loteng memutuskan tidak ikut mencalonkan diri, sehingga dirinya tidak mengikuti proses pencalonan di internal partainya. Salah satu alasannya, ia belum mendapatkan restu dari ibunya, sehingga ia memilih mengurungkan ambisi politiknya untuk maju.

“Dari awal sudah saya sampaikan, kalau tidak ada izin dari ibu, maka tidak akan kami melanggar itu. Saya sendiri tidak mendaftar, padahal saya adalah ketua DPC, ya karena tidak ada restu itu,” tegasnya.

Meskipun demikian, bukan berarti diri langkah politik Pelita berhenti sampai di situ. Menurutnya jika momentum politik berpihak kepadanya, maka ia akan kembali menghadap ibunya untuk menjelaskan situasi dan keadaan perkembangan politik yang terjadi.

“Jika nanti ada kondisi konstelasi politik yang berbeda, maka akan kami sampaikan (ke Ibu) dan keputusan DPP menghendaki saya meskipun tidak ikut daftar, tapi dengan melihat berbagai pertimbangan, itu sah-sah saja DPP mencalonkan saya, karena itu kewenangan ada di DPP juga,” katanya.

Untuk saat ini, posisi PKB sembari terus bergerak, juga tengah mengikuti dinamika politik yang terjadi dalam internal pada politik lainnya. Karena perkembangan dinamika politik yang terjadi di partai lain, itu juga tidak tertutup kemungkinan akan memberikan pengaruh besar tersebut keputusan PKB.

“Misalnya Partai Golkar kan mau musda, usai musda bisa saja ada perubahan politik, karena memang tidak ada partai yang bisa mengusung sendiri, kita harus koalisi, sehingga wajar PKB juga menunggu dinamika di partai lain. Jadi semua ini masih cair,” pungkasnya. (ndi)