Lagi, Ranmor yang Parkir Sembarangan Digembok

Dua kendaraan mobil digembok Dinas Perhubungan Kota Mataram di Kawasan Tertib Lalu lintas (KTL) di Jalan Pejanggik Mataram, Selasa, 10 Desember 2019. Di KTL ini, kerap pengguna ranmor melanggar. Selama dua hari ada sekitar lima mobil yang digembok Dishub Kota Mataram. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perhubungan Kota Mataram kembali menggembok kendaraan bermotor (Ranmor) di ruas jalan larangan parkir di jalan Pejanggik Mataram. Selama dua hari, Dishub Kota Mataram menggembok sekitar tujuh ranmor roda empat dan roda dua di kawasan tertib lalulintas (KTL) itu.

“Kita sudah ingatkan, kita piketnya selama 24 jam di sana. Tetap melakukan pengawasan sampai malam. Ini kan yang digembok kebanyakan nasabah bank yang ada di sana,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, M. Saleh kepada suara NTB, Rabu, 11 Desember 2019.

Menurut Saleh, kebanyakan yang ditilang selama ini merupakan nasabah bank di sana. Katanya, mereka malas jalan untuk memarkir kendaraannya di area parkir, baik di dalam taman Sangkareang maupun di samping Hotel Santika Mataram.

“Kebanyakan alasannya katanya mau ke ATM sebentar, tidak tahu ada petugas, iya digembok,” jelas Saleh.

“Tiap hari itu kita pantau, tidak hanya kendaaraan roda empat, motor juga banyak yang sudah dirantai. Salah satu faktor kebanyakan mereka tidak tahu adanya penggembokan ini,” katanya. Dishub tak akan membeda-bedakan, selama ranmor melanggar aturan, penindakan akan tetap berlaku.

“Kita tidak pandang mereka mau parkir sebentar atau lama, kita tetap gembok,” tambahnya.

Dalam satu hari, KTL di Jalan Pejanggik selalu ada yang digembok. Bahkan kata Saleh sampai 2 hingga 4 kendaraan. Untuk penilangannya kata Saleh, Dishub sudah menyerahkan ke Polres Mataram. “Nanti mobil akan didenda Rp100 ribu dan motor Rp75 ribu,” katanya.

Ia berharap, pihak kepolisan Mataram memberlakukan denda maksimal bagi pelanggar. Dalam denda maksimal itu, untuk mobil yang digembok akan didenda Rp250 ribu, motor Rp100 ribu.

“Tapi kan Dishub cuma bertugas pasang gembok dan buka gembok. Untuk tilangnya kita serahkan ke kepolisian. Nanti hasil denda ini masuk ke kas negara dan masuk ke penghasilan negara bukan pajak (PNBP),” tutupnya. (viq)