Pemprov Bangun Tiga Pabrik Minyak Kayu Putih

Ilustrasi minyak kayu putih (suarantb.com/shutterstock)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB telah mewujudkan industrialisasi di bidang kehutanan. Sebanyak tiga pabrik minyak kayu putih telah dibangun di Pulau Lombok dan Sumbawa. Selain itu, salah satu investor, PT. Sanggar Agro di wilayah Sanggar Kabupaten Bima akan segera mengoperasikan pabrik minyak kayu putih terbesar kedua di Indonesia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si mengungkapkan,  sudah ada tiga pabrik minyak kayu putih yang dibangun Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di NTB. Yakni, dua pabrik di KPH Rinjani Barat dan satu pabrik di KPH Batulanteh Sumbawa.

‘’Sudah ada tiga unit pabrik minyak kayu putih yang berada di KPH. Di Lenangguar dekat Klui dan Bentek KLU. Satu lagi di KPH Batulanteh Sumbawa,’’ sebut Madani dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Senin, 11 November 2019.

Ia menyebutkan, kapasitas pabrik minyak kayu putih tersebut masing-masing 600 – 900 Kg per hari. Dengan rendemen 1 persen, minyak kayu putih yang dihasilkan 6-9 liter per hari. Dijelaskan, dalam satu kali produksi, sebanyak 300 Kg daun kayu putih yang diolah. Dalam sehari, produksi dilakukan sebanyak tiga kali.

Ia menyebut, luas lahan tanaman kayu putih yang ditaman seluas 1.025 hektare. Dulu, kata Madani, jarak tanamnya 5×5 meter. Tetapi sebenarnya jarak tanam bisa 1×1 meter.

Menurut Madani, potensi pengembangan minyak kayu putih cukup besar di NTB. Pasalnya, secara nasional kebutuhan minyak kayu putih masih diimpor sekitar 75 persen. Produksi minyak kayu putih dalam negeri masih sekitar 25 persen.

‘’Kontribusi baru 25 persen disuplai di daerah. Makanya peluangnya bagus. Kayu putih bisa hidup di daerah kering. Makanya kita mau arahkan di Pulau Sumbawa,’’ katanya.

Setiap 1 Kg daun kayu putih, kata Madani dibayar oleh KPH sebesar Rp1.000. Jika masyarakat menanam 5.000 pohon saja, sudah bisa panen daun kayu putih sebanyak 5 ton. Pada umur 5 tahun, hasil daun kayu putih bisa mencapai 10 Kg per pohon.

Untuk pabrik minyak kayu putih yang berada di Sanggar, saat ini sedang dalam tahap set up pabrik. Investor tersebut sudah menanam kayu putih pada lahan seluas 4.000 hektare lebih. ‘’Dia sudah nanam tiga tahun lalu. Set up pabriknya sekarang,’’ tandasnya.

Dalam waktu dekat, pabrik minyak kayu putih di Sanggar akan segera rampung dan beroperasi. ‘’Akan segera beroperasi dia (pabrik minyak kayu putih). Nama investornya PT. Sanggar Agro di Sanggar Kabupaten Bima. Dia sudah bangun pabrik di sana dengan kapasitas 60 ton daun kayu putih  per hari,’’ kata Kepala Bidang Pengelolaan Hutan Dinas LHK NTB, Julmansyah, S. Hut, M. AP.

Julmansyah menyebutkan, PT. Sanggar Agro menanam kayu putih pada lahan Hak Guna Usaha (HGU) seluas 4.600 hektare. Tanaman kayu putih ini selanjutnya menjadi bahan baku yang akan diolah menjadi  minyak kayu putih.

Dengan kapasitas bahan baku daun kayu putih sebanyak 60 ton. Maka minyak kayu putih yang dihasilkan sekitar 600 Kg sehari. “Dia punya rendemen 0,9 – 1 persen. Sehingga hasilnya per hari kurang lebih 600 Kg,’’ sebutnya.

Investor tersebut, kata Julmansyah sekarang sedang men-set up pabrik minyak kayu putih tersebut. Untuk penanaman kayu putih, mereka menggunakan teknologi seperti drip irrigation atau irigasi tetes.

Penanaman kayu putih akan digalakkan di lahan dan kawasan hutan yang kritis yang pernah dirambah masyarakat. Yakni, lokasi yang sudah ada legalitas perhutanan sosialnya. Tanaman kayu putih ini, kata Julmansyah memang dipacu untuk merehabilitasi hutan dan lahan yang kritis.

Karena memang tanaman kayu putih merupakan tanaman pionir. Dia bisa tumbuh di iklim ekstrem sekalipun. Dengan curah hujan di bawah 1.000 mm per tahun. ‘’Justru di daerah kering dia bagus tumbuhnya,’’ terangnya. (nas)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.