Info Cuaca Penting untuk Strategi Pariwisata

Mataram (Suara NTB) – Dipilihnya sektor pariwisata sebagai salah satu program unggulan dan strategis untuk memajukan NTB tidak dapat dilepaskan dari kondisi alamnya. Dengan memahami kondisi cuaca dan iklim, para pelaku pariwisata diharapkan dapat memetakan potensi dan mengatur paket wisata dengan lebih efisien.

Mulyono Rahadi Prabowo
Mulyono Rahadi Prabowo. (Suara NTB/bay)

Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Meteorologi BMKG Pusat, Drs. R. Mulyono Rahadi Prabowo, M.Sc, ketika berkunjung ke Mataram, Selasa, 24 September 2019. ‘’Sektornya bermacam-macam (yang membutuhkan), dari transportasi seperti udara, laut, dan darat. Itu berkaitan juga dengan sektor pariwisata, pertanian, dan sebagainya,’’ ujarnya ketika dikonfirmasi Suara NTB.

Terkait potensi pariwisata, Mulyono menekankan bahwa Lombok secara khusus telah menjadi objek wisata nomor dua setelah Bali. Dengan demikian, pemanfaatan informasi cuaca oleh para pelaku pariwisata diharapkan dapat bekerja dengan maksimal.

“Pariwisata itu sangat sensitif terhadap kondisi cuaca. Apalagi setelah kejadian gempa bumi yang cukup meresahkan beberapa waktu lalu, kita menjadi makin sadar bahwa kondisi lingkungan ini perlu kita pahami,” ujarnya. Untuk itu diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah dengan badan pemerintahan linear seperti BMKG maupun stakeholder terkait untuk menyusun sistem mitigasi yang baik.

Baca juga:  BMKG Jelaskan Waktu Tibanya Hari Tanpa Bayangan di NTB

Mulyono menyebut saat ini pihaknya telah mengupayakan beberapa hal terkait hal tersebut. Diantaranya penyusunan program Masyarakat Indonesia Sadar Iklim dan Cuaca (MOSAIC) yang menyasar pelaku pariwisata di NTB sebagai peserta. Dalam program tersebut akan dibahas bagaimana mengatur pariwisata berbekal info cuaca.

Selain itu, Mulyono juga berharap ada peran aktif dari para pelaku pariwisata

untuk mengajukan jenis informasi apa yang dibutuhkan dari BMKG untuk memaksimalkan potensi wisata yang ada di NTB. ‘’Ada hal-hal yang perlu dari BMKG belajar bagaimana kalau di daerah perairan dangkal kita harus menyiapkan informasi apa, untuk daerah-daerah pegunungan yang ada trekingnya dan lain sebagainya. Tentunya ini akan berbeda dengan kondisi cuaca yang kita siapkan secara rutin,’’ ujarnya.

Dengan begitu, informasi yang dikeluarkan oleh BMKG diharapkan benar-benar dapat mendukung pengaturan paket pariwisata sehingga dapat sesuai dengan keamanan dan kenyamanan wisatawan. Dicontohkan Mulyono seperti kondisi dimana cuaca dominasi hujan, para pelaku pariwisata dapat menentukan objek wisata yang paling tepat untuk dikunjungi berdasarkan informasi cuaca.

Baca juga:  Ironi Ikon Wisata Dunia, Gili Trawangan Tak Punya Toilet Representatif

‘’Contohnya dengan adanya angin timuran dan angin baratan ini tentunya akan bisa merubah pola layanan kepada pariwisata. Apakah kemudian daerah barat yang akan lebih dieksplore ketika terjadi angin timuran atau nantinya bergeser ke arah timur,’’ ujar Mulyono. Tujuan utama dari pemanfaatan informasi tersebut adalah memastikan kesiap-siagaan seluruh pelaku pariwisata dalam menjamin keselamatan wisatawannya.

Secara umum wilayah Indonesia yang begitu luas disebut memengaruhi karakteristik kondisi cuaca di masing-masing daerah. Walaupun begitu, ada variabilitas harian mencakup perubahan cuaca maupun pergerakan lempeng bumi yang sulit diprediksi yang disebut akan sangat mempengaruhi keadaan di lapangan. ‘’Pelaku pariwisata yang sedang meng-guide (memandu) wisatawan, menjadi group leader wisata, tentunya menjadi tanggung-jawab utamanya untuk menyelamatkan group. Dari situlah kami dari BMKG (akan) mengajak pelaku pariwisata untuk diskusi,’’ pungkasnya. (bay)