Setahun Zul Rohmi, Wagub Paparkan Industrialisasi Pertanian, Virus Zero Waste dan Revitalisasi Posyandu

Zulkieflimasyah - Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Pencapaian program-program unggulan satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc – Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd (Zul-Rohmi) menunjukkan progres yang menggembirakan. Genap satu tahun memimpin NTB, pada Kamis, 19 September 2019, pasangan Zul – Rohmi mencanangkan industrialisasi pertanian.

Selain itu, capaian program revitalisasi Posyandu mencapai 1000 persen lebih. Karena sekarang jumlah Posyandu Keluarga lebih dari 800 unit dari kondisi sebelumnya 87 Posyandu Keluarga. Sedangkan untuk program unggulan NTB Zero Waste, masyarakat sudah mulai “tertular” virus zero waste. Ada rasa malu ketika mereka membuang sampah sembarangan.

Demikian diungkapkan Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd dalam Diskusi Terbatas dengan tema ‘’Satu Tahun Zul – Rohmi : Membangun Kebersamaan untuk NTB Gemilang’’ yang digelar di Ruang Redaksi Suara NTB, Kamis, 19 September 2019. Wagub mengatakan, Pemprov NTB mencanangkan industrialisasi pertanian di Lombok Utara, tepat satu tahun kepemimpinan Zul – Rohmi, kemarin.

Industrialisasi pertanian yang dikembangkan di Lombok Utara menggunakan metode drip irrigation atau irigasi tetes. Pemprov memberanikan mencoba industrialisasi pertanian ini dengan sejumlah alasan.

Antara lain, industrialisasi pertanian dengan metode drip irrigation mampu menghemat penggunaan air sampai 95 persen. Dengan metode ini, air dialirkan lewat selang-selang. Sehingga air akan sampai ke akar-akar tanaman. ‘’Jadi tidak terbuang air di tanah,’’ terangnya.

Kemudian, dengan metode drip irrigation, petani bisa panen tiga kali dalam setahun. Dari semua panen satu kali setahun. Dengan metode drip irrigation, lahan dapat ditanami sampai tiga kali tanam. Selain itu, produktivitas panen juga meningkat 20 persen.

Sehingga, apabila dihitung  secara ekonomi, akan terjadi peningkatan  empat kali lipat. Cuma memang, kata Wagub, PR-nya yang harus dicarikan jalan keluarnya, instalasi awalnya. Karena metode drip irrigation ini memakai artificial intelligence atau memakai kontrol.

‘’Sehingga air diatur tekanannya rendah, terus volumenya kecil, netes secara kontinu. Kalau ini bisa kita terapkan di NTB, tak ada lagi alasan tanah kering. Inilah yang dilakukan di daerah-daerah maju,’’ tuturnya.

Ia mencontohkan seperti di Dubai. Di daerah-daerah yang kering, mereka menggunakan drip irrigation. ‘’Tapi memang harus kita cari sumber air. Airnya hemat, hasilnya luar biasa,” ucapnya.

Ummi Rohmi mengatakan pertanian dengan metode drip irrigation merupakan salah satu pemanfaatan teknologi. Ia membayangkan  masa depan pertanian di NTB adalah industrialisasi, yakni  memanfaatkan teknologi. Ke depan, pupuk yang digunakan adalah organik.

Jika industrialisasi pertanian ini dapat terealisasi di seluruh NTB. Ummi Rohmi mengatakan industrialisasi pertanian NTB akan sangat luar biasa. Tetapi memang, hal itu perjalanan yang panjang dan butuh kerja keras yang luar biasa.

Ia menjelaskan alasan Pemprov mendorong industrialisasi pertanian ini. Harapannya, NTB tidak lagi menjual hasil pertanian dalam bentuk barang mentah. Tetapi dapat diolah di dalam daerah supaya memberikan nilai tambah.

Sehingga jangan sampai bawang dan jagung yang diproduksi di NTB dijual ke luar daerah. Kemudian diolah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi seperti pakan. “Sehingga nilai tambahnya dirasakan oleh masyarakat NTB. Secara holistik, komprehensif merasakan manfaat ekonomi dari apa yang kita lakukan di sini,” imbuhnya.

Wagub mengungkapkan Kementerian Pertanian (Kementan) senang sekali dengan industrialisasi pertanian yang dicanangkan NTB. Bahkan mereka sempat mengatakan apabila program ini berhasil, maka harus mengundang Presiden ke NTB. Pasalnya, industrialisasi pertanian dengan metode drip irrigation yang dilakukan NTB baru pertama di Indonesia.

Karena ini pertama di Indonesia, kata Wagub, maka Pemprov bertekad harus berhasil. Jika ada kemauan, katanya, maka pasti ada jalan. Tapi memang banyak hal yang harus dibenahi di awal. Namun, katanya, begitu terpasang dan bisa dimanfaatkan oleh petani, maka impact-nya akan menjadi luar biasa.

Revitalisasi Posyandu

Kemudian mengenai revitalisasi Posyandu, capaiannya cukup membanggakan selama setahun ini. Dari kondisi awal sebanyak 87 Posyandu Keluarga,  sekarang sudah tercapai 800 Posyandu Keluarga.

“Sudah signifikan, kenaikannya sudah 1000 persen. Target kami 2023, seluruh Posyandu kita menjadi Posyandu Keluarga,” kata orang nomor dua di NTB ini.

Dengan menjadi Posyandu Keluarga diharapkan masyarakat sendiri yang akan  menjaga diri dan keluarganya. Karena edukasi tentang masalah kesehatan dan sosial dapat dilakukan di Posyandu Keluarga. Begitu juga pelayanan Posyandu bukan hanya untuk bayi dan ibu hamil. Tetapi pelayanan Posyandu Keuarga mulai dari bayi sampai lansia.

Wagub mengatakan Posyandu merupakan institusi atau kegiatan yang dilaksanakan tiap bulan di setiap dusun seluruh NTB. Lewat revitalisasi Posyandu, Pemprov menginisiasi supaya dijadikan garda terdepan untuk memproteksi masyarakat. Menjadi tempat kegiatan preventif dan promotif untuk masalah kesehatan dan sosial.

“Sehingga tujuannya revitalisasi Posyandu ini akan terbentuk Posyandu Keluarga. Dimana Posyandu Keluarga itu menghasilkan ketahanan keluarga. Ujung-ujungnya adalah pengentasan kemiskinan,” ujarnya.

Fungsi Posyandu Keluarga bukan saja untuk upaya preventif dan promotif di bidang kesehatan. Tetapi juga menjadi tempat edukasi masyarakat mengenai isu-isu sosial seperti pendewasaan usia perkawinan, stunting, narkoba, illegal logging, kebakaran hutan, mitigasi bencana.

“Kita ingin edukasi masyarakat dari bawah, dari dusun. Maka peran kader Posyandu menjadi sangat besar. Begitu juga tokoh-tokoh masyarakat, Pendamping PKH, pendamping desa kita pertajam lagi perannya. Supaya bisa mengedukasi masyarakat,” terangnya.

Mengenai program unggulan zero waste, Wagub mengatakan sudah mulai banyak terdengar dan menjadi perbincangan masyarakat. Bahkan sekarang, banyak masyarakat yang sudah “tertular” virus zero waste.

Dikatakan PR terbesar soal zero waste masih berkaitan dengan mindset masyarakat. Masyarakat masih belum sama frekuensinya dalam memandang sampah. Sebagian besar orang menganggap sampah merupakan sesuatu yang tidak berharga. Padahal, kata Wagub, sampah merupakan sumber daya.

Dikatakan, Indonesia merupakan penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut. Sampah plastik yang dibuang ke laut pasti akan dimakan ikan. Sementara, ikan yang ditangkap dari laut oleh nelayan dimakan manusia. Sehingga tidak heran, banyak masyarakat yang mengkonsumsi ikan yang memakan plastik maka akan terpapar mikroplastik.

“Makanya penyakit kanker bukan orang kota saja. Orang desa sekarang penyakitnya elit-elit, seperti kanker, stroke. Karena memang semuanya itu siklus yang tidak bisa kita diamkan,” ungkapnya.

Wagub menambahkan, banyak orang yang bilang persoalan sampah bukan tugasnya pemerintah provinsi. Namun, provinsi tidak bisa hanya menonton atau menunggu keajaiban tidak akan ada sampah. Sehingga, Pemprov memfasilitasi dan mengkoordinasikan semua kabupaten/kota agar komit mewujudkan zero waste di NTB.

“Kita ingin masyarakat NTB berubah mindset-nya. Bahwa sampah bukan sumber masalah, bukan sumber penyakit.  Kalau sekarang sumber masalah dan sumber penyakit. Tetapi sampah adalah sumber daya. Kalau sampah ini dikelola dengan baik, semuanya bisa jadi duit,” ucapnya.

Satu tahun kepemimpinan Zul – Rohmi, ujar Wagub, progres NTB Zero Waste sudah luar biasa. Dari sisi regulasi sudah ada Perda dan Pergub dan aturan pelaksanaan di lapangan yang akan menjadi acuan untuk menjalankan program tersebut.  Satu tahun pertama, regulasi mengenai NTB zero waste sudah mampu diselesaikan. Kemudian kampanye mengenai zero waste juga dilakukan.

“Kita tularkan virusnya. Kemudian kita ingin, semua desa dan kelurahan ada bank sampah. Dengan adanya bank sampah itulah yang bisa merealisasikan sampah jadi sumber daya. Sehingga masyarakat tak perlu pusing-pusing bagaimana mengolahnya. Cukup masyarakat pilah sampah, jangan buang sembarangan. Di situlah peran pemerintah kabupaten/kota. Baru dikelola dengan baik,” terangnya.

Wagub mengatakan saat presentasi di pemerintah pusat tentang lima destinasi prioritas. NTB menjadi sorotan. Karena program yang disampaikan untuk mendukung pengembangan pariwisata adalah zero waste, desa wisata dan mitigasi bencana. Sementara provinsi lain mempresentasikan tentang angka kunjungan wisatawan. Presentasi yang disampaikan NTB mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat.

Menurutnya, tidak ada waktu lagi untuk tidak memperjuangkan zero waste. Pasalnya, dari 3.800 ton sampah yang dihasilkan di NTB, baru 20 persen yang dikelola atau ditangani. Sisanya 80 persen masih dibuang sembarangan dan berserakan dimana-mana.

“Alhamdulillah,  masyarakat sudah ada malunya. Sudah mulai mengingatkan satu sama lain. Itu sesuau yang luar biasa. Karena memang langkah pertama harus  virusnya dulu kita tularkan. Kemudian kita siapkan aturannya, kemudian kita bergerak,” tandasnya.

Ditargetkan sampai 2023, sebesar penanganan sampah mencapai  70 persen. Dan pengurangan sampah sebesar 30 persen. Ditambahkan, ikhtiar mewujudkan NTB zero waste memang butuh waktu. Wagub memberikan contoh seperti Abu Dhabi, mereka bisa merealisasikan zero waste selama 10 tahun. Begitu juga Australia, juga butuh waktu 10 tahun.

Sementara NTB, memberanikan diri memasang target lima tahun untuk merealisasikan zero waste. “Ini harus lari benar, 2023 tinggal empat tahun lagi. Tapi insya Allah kalau semua bersama-sama, gotong royong. Mudah-mudahan apa yang kita rencanakan bisa berjalan lancar,” katanya. (nas)