Memacu Kontribusi di Tengah Tren Negatif

Achris Sarwani - I Gusti Lanang Putra (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Kontribusi tambang di NTB perlu dipacu di tengah tren yang terjadi dari dari tahun ke tahun. Kondisi di sektor tambang ini berbanding terbalik dengan bidang pertanian yang mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achris Sarwani, merincikan, pada tahun 2015, pangsa tambang paling besar di NTB yaitu sebesar 23 persen, sedangkan pertanian 21 persen. Pada tahun 2016, tambang mengalami penurunan satu persen, dan pertanian tetap. Di tahun 2017 tambang kembali turun menjadi 19 persen, sedangkan bidang pertanian naik menjadi 22 persen.

‘’Pada 2018, pada saat kita kena gempa, sebenarnya pertanian sendiri turun. Karena ada daerah terdampak gempa, tambang hanya 14 persen, pertanian 23 persen,’’ katanya.

Sementara, di triwulan dua tahun 2019, tambang sebesar 11 persen, sedangkan pertanian sebesar 25 persen. ‘’Di satu sisi ‘kuenya’ NTB, besarannya ekonomi NTB tidak jauh berbeda juga atas dasar harga berlaku pada saat tahun 2017 dan 2018 kita tahu ada penurunan sedikit,’’ jelasnya.

Misalnya, secara nilai atas dasar harga berlaku pada 2017 itu sebesar Rp124,88 triliun. Di akhir 2018 sebesar Rp124,42 triliun. “Tapi negatif  0,11 di akhir 2018,” sebutnya.

Baca juga:  Sumbawa, “Zero Waste” dan Tantangan Kesadaran

Jika diukur pada kuarter kedua tahun ini, kumulatif Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sekitar Rp64,66 triliun. Kalau dibandingkan dengan posisi tahun 2018, artinya posisi saat ini sekitar 52 persen pencapaiannya di titik tersebut. Nilai PDRB tambang dari posisi tahun 2017, sebagai contoh atas dasar harga berlaku, di akhir 2017 masih Rp24,1 triliun,

tapi di tahun 2018 sebesar Rp17,3 triliun.

‘’Dua kuarter terakhir, total kita hanya Rp8,1 triliun. Kalau misalnya kita dengan asumsi sama, di akhir tahun mungkin angkanya tidak beda dengan 2018, maka Rp17 triliun juga, jadi mungkin kalau itu bisa dipertahankan,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, I Gusti Lanang Putra menyampaikan bahwa dari data yang dimiliki, dahulu pertambangan masih sangat tinggi. Sektor ini merupakan sektor penyumbang terbesar perekonomian di NTB.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir untuk penambangan bijih logam, berdasarkan produksi konsentrat yang dihasilkan  pada posisi di triwulan dua tahun 2019 berada di posisi 11, 25 persen.

Baca juga:  Wujudkan Zero Waste; Siapkan Fasilitas Pendukung hingga Belajar ke Swedia

“Artinya secara struktur perekonomian NTB di 2019 ini didominasi oleh sektor pertanian,  kemudian ada perdagangan. Peranan sektor konstruksi juga lebih tinggi dibandingkan pertambangan,” ujarnya.

Jika dilihat dari pertumbuhan konsentrat tembaga juga hampir sama. Dalam beberapa tahun terakhir sejak 2017 itu,  pertambangan mengalami pertumbuhan yang negatif. Artinya, produksi yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dari periode-periode sebelumnya. Namun tidak bisa dipungkiri dengan adanya AMNT ini, cukup banyak berpengaruh di perekonomian daerah setempat. Hal itu yang terlihat dari tumbuhnya sektor-sektor yang lain yang bersinggungan dengan kegiatan produksi AMNT.

Menurut Gusti Lanang, saat tambang sudah tidak mendominasi lagi. Karena itu perlu didorong sektor-sektor lainnya. Salah satunya menumbuhkan sektor industri untuk mendorong dan memacu pertumbuhan ekonomi.

Untuk pertumbuhan ekonomi NTB, di triwulan kedua jika dihitung dengan tambang, tumbuh sebesar 3,14 persen. Namun jika dihitung tanpa tambang, perekonomian NTB berada di atas pertumbuhan nasional, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,35 persen. “Artinya bahwa sektor di luar pertambangan bergerak lebih cepat dibandingkan dengan pertambangan sendiri,” pungkasnya. (ron)