Lewat Tambang Menggenjot Industrialisasi

Firmansyah (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Pertambangan seharusnya memberi nilai lebih tidak hanya dari sektor industrinya. Namun juga dampak ikutan lewat pengembangan terstruktur. Sektor tambang dapat lebih kuat mengatrol ekonomi NTB dengan pelibatan setiap elemen masyarakat.

Pemerhati Ekonomi Universitas Mataram, Dr. Firmansyah menilai, pertambangan sebagai sektor yang unik. Yakni memengaruhi pertumbuhan ekonomi NTB namun masih dianggap semu.

“Secara makro ekonomi pertumbuhan ekonomi 7 persen. Kalau dikeluarkan sektor tambangnya gimana? Seakan-akan kehadiran tambang itu tidak ada artinya,” jelasnya.

Persepsi itu diperparah lagi dengan ragam penolakan tambang oleh masyarakat. Hal itu bisa diantisipasi apabila pemerintah memiliki rencana induk pengembangan yang menyeluruh. Mempertimbangkan efeknya bahkan sampai entitas ekonomi terkecil.

Baca juga:  Tingkatkan Literasi Keuangan, Putus Mata Rantai Kemiskinan

‘’Kita tidak bisa berpikir an sich, membangun tambang itu hanya tambangnya saja. Berapa radius pengaruh tambang ini juga harus kita pikirkan. Dinas Pertambangan harus membangun master plan atau blueprint,’’ paparnya.

Firmansyah menyebut susunan perencanaan induk itu termasuk pertimbangan kontribusi tambang secara langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung melalui pembukaan lapangan kerja dengan ukuran sumber daya manusia.

‘’Bagaimana masyarakat yang tidak punya pendidikan yang disyaratkan pertambangan? Misalnya yang lulusan SMA disiapkan kerja di bidang apa, yang sarjana apa yang bisa dikerjakan,’’ urainya.

Pengaruh tambang tidak langsung, menurut dia, perlu disikapi dengan membuat skema pengembangan terpadu. Hal itu merujuk pada program pemerintahan Gubernur/Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah – Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah.

Baca juga:  Investasi Padat Karya, Percepat Penurunan Kemiskinan

“Sekaligus ini bisa mendorong program industrialisasi yang dicanangkan gubernur. Buat blueprint-nya, di sekitar (tambang) itu usaha apa yang perlu dibangun, jejaringnya ke mana, pembiayaannya bagaimana,” terangnya.

Sementara untuk perusahaan pertambangan, Firmansyah menilai karyawan tambang perlu disiapkan dengan program pascabekerja. Sebab, usia industri tambang ada batasnya.

“Artinya karyawan dari sekarang dilatih untuk enterpreneurship. Nanti waktu mereka tidak bekerja lagi, mereka bisa membangun sendiri ekonominya,” pungkas Firman. (why)