Kecamatan Wawo Mulai Krisis Air Bersih

Warga Desa Pesa Kecamatan Wawo menunggu untuk mendapatkan air bersih di bak penampungan, akhir pekan kemarin. (Suara NTB/Uki)

Bima (Suara NTB) – Kecamatan Wawo, salah satunya di Desa Pesa yang selama ini tidak pernah kekurangan air bersih, kini harus merasakan dampak kekeringan musim kemarau. Bahkan kondisi itu terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

“Sejak dulu Wawo itu tidak pernah kekurangan air, tapi beberapa tahun terakhir kita kekeringan,” kata warga Pesa, Ilyas kepada Suara NTB, akhir pekan kemarin. Ilyas tidak mengetahui persis penyebab krisisnya air bersih tersebut. Namun Ia menduga kekeringan itu akibat dampak dari penebangan pohon-pohon di hutan yang dijadikan lahan jagung.

“Kemungkinan banyak penebangan pohon ini sehingga menyebabkan debit air semakin menyusut,” katanya.

Menurutnya untuk mendapatkan air bersih, warga harus mengambil di bak-bak penampungan. Dulu air langsung mengairi ke rumah-rumah warga tanpa harus mengantre panjang seperti saat ini. “Sekarang mendapatkan air bersih harus mengantre di bak penampungan. Kalau tidak warga tidak mendapatkan air bersih untuk kebutuhan setiap hari,” katanya.

Sementara, Kasubid Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, Bambang Hermawan, S.Sos, mengatakan Desa Pesa Kecamatan Wawo merupakan salahsatu desa di Kabupaten Bima yang terdampak kekeringan tahun 2019.

“Ada sekitar puluhan desa di Kabupaten Bima yang terdampak kekeringan, salasahtunya di Desa Pesa ini,” katanya.

Menurutnya, des-desa yang terdampak tersebut telah dikeluarkan Surat Keputusan (SK) dan ditetapkan sebagai status siaga darurat kekeringan selama tiga bulan kedepan, belum lama ini. “Kita sudah tetapkan status siaga darurat kekeringan selama 90 hari,” ujarnya.

Diakuinya dalam status siaga tersebut pihaknya selama 90 hari akan mendistribusikan air bersih ke wilayah yang terdampak. Serta berkoordinasi dengan OPD teknis untuk penanggulangannya. “Setiap hari air bersih yang disalurkan antara 15.000 sampai dengan 20.000 liter atau rata-rata 3 mobil tangki. Distribusi air juga tergantung ada permintaan dari Desa yang membutuhkan,” pungkanya. (uki)