Derita Kanker Payudara, Nenek Sahnun Tetap Memulung

Nenek Sahnun (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Menjadi seorang pemulung memang tidak pernah ia cita-citakan oleh Nenek Sahnun. Nenek Sahnun (60) asal Narmada Lombok Barat sempat mengalami kanker yang membuatnya hidup dalam keterbatasan.

Kanker payudara yang dideritanya tidak membuat nenek Sahnun menyerah. Bagaimana tidak, ia memilih menjadi pemulung dermawan yang berkurban sapi pada Idul Adha tahun ini. Enam tahun lalu nenek Sahnun sempat dioperasi lantaran kanker payudara yang dideritanya.

Ditemui di Mataram, Sabtu, 10 Agustus 2019 saat sedang memulung sampah plastik, nenek Sahnun terlihat tetap gigih meskipun pada Jumat lalu dia sempat kena gigitan anjing saat memulung.

Anak angkat Nenek Sahnun, Raehan mengisahkan, delapan tahun lalu Nenek Sahnun, sempat mengalami kanker payudaya. Kanker yang dideritanya membuat nenek Sahnun harus dioperasi. Setelah operasi, tangan kanan nenek Sahnun tidak bisa digunakan secara normal.

“Dulu, dia sempat mengalami penyakit kanker. Makanya saat makan, ia tidak bisa menyuap nasi dengan tangan kanannya. Jadi terpaksa pakai tangan kiri,” kata Raehan kepada Suara NTB, Minggu, 11 Agustus 2019.

Sempat viral di medsos dan televisi lantaran berkurban sapi, nenek Sanun saat itu juga mendapat hadiah perjalanan ibadah haji dan umrah dari Nur Rima Al-Waali (NRA) travel di Jakarta. Hal itu membuat Raehan beserta keluarga Raehan yang menampung nenek Sahnun selama lima tahun terakhir ini merasa bahagia.

“Saya sangat bersyukur dengan hadiah itu. Semoga ibu Sahnun mau menerimanya,” kata Raehan.

Kata Raehan, tak banyak yang tahu alasan nenek Sahnun menjadi pemulung. Wanita yang menampung nenek Sahnun selama lima tahun terakhir ini mengungkapkan bahwa nenek Sahnun mengalami peristiwa traumatik lantaran keluarganya tidak pernah mengurusnya.

Menurut Raehan, Nenek Sahnun pernah bekerja di Surabaya beberapa tahun silam. Hidupnya terkatung-katung di Surabaya. “Semenjak itu, ia pulang ke Lombok untuk merantau menjadi pemulung sehabis dioperasi,” kata Raehan.

Dengan kegigihannnya ungkap Raehan, wanita sebatangkara itu memiliki keinginan yang kuat untuk terus menjalani hidupnya. “Lihat saja mas tangan kanannya, dia tidak bisa terus digerakkan. Tapi Alhamdulillah, dia masih mampu membawa barang hasil memulung,” ungkapnya.

Kehidupan nenek Sahnun memang terbilang tak semulus orang pada biasanya. Saat ini ia menjalani hidupnya menjadi pemulung di Kota Mataram. Keinginan nenek Sahnun untuk terus berkurban dengan mengumpulkan uang dari hasil memulung plastik bekas.

“Saya akan berusaha terus untuk mengumpulkan uang untuk ditabung kemudian disedekahkan dengan membeli hewan kurban,” katanya.

Nenek sebatang kara asal Narmada Lombok Barat yang memilih menjadi pemulung itu telah memberikan pelajaran tentang arti kehidupan yang sederhana bagi warga Lombok khususnya Kota Mataram. Dengan penuh keterbatasan, nenek Sahnun tetap dipenuhi rasa optimisme dalam dirinya untuk terus berbagai dengan sesama selama hidup masih dapat dijalaninya. (viq)