Nenek Sahnun Sang Pemulung Dermawan Kena Musibah Sebelum Dihadiahi Umrah

Nenek Sahnun (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Bagi nenek Sahnun, berbagi kepada sesama sudah menjadi keharusan baginya. Bagaimana tidak, pemulung asal Narmada Lombok Barat yang merantau ke Mataram ini dalam lima tahun  terakhir sudah kerap berkurban. Tahun ini menjadi tahun yang paling bahagia bag nenek Sahnun karena mendapat hadiah umrah dari salah satu Penyelenggara Ibadah Haji di Jakarta karena kedermawanannya.

Sayangnya, pada hari Jumat pekan kemarin, nenek Sahnun mengalami musibah. Nenek pemulung yang dermawan ini mendapat gigitan anjing saat memulung botol plastik di lingkungan Cakranegara, Kota Mataram pagi harinya.

Sementara itu, perusahaan perjalanan ibadah haji dan umrah di Jakarta,  Nur Rima Al-Waali (NRA) travel yang terbang dari Jakarta sempat kebingungan mencari nenek Sahnun. Niat pihak NRA menyerahkan hadiah Umrah ke nenek Sahnun lewat Majelis Ta’lim Nurul Iman, Karang Jangkong, pun sempat tertunda.

“Ia sempat dibawa ke puskesmas yang ada di Mataram untuk mendapat dua jahitan di atas mata kakinya. Nenek Sahnun seharusnya dia dirawat di rumah Sakit. Tapi ia (Sahnun) menolak,” kata Nazamuddin, kepala Lingkungan Karang Jangkong, Sabtu, 10 Agustus 2019.

Nenek Sahnun kata Nazamudin, memang manusia yang kuat. Walaupun mengalami luka jahitan akibat digigit anjing, ia tetap gigih mencari botol bekas esok harinya. Dari pantauan Suara NTB pada Sabtu, 10 Agustus 2019, nenek Sahnun seperti tak mengalami sakit. Dengan langkahnya, nenek Sahnun datang membawa plastik ukuran besar yang diisi plastik botol bekas.

“Ah… Saya sudah biasa sakit. Saya harus memulung. Karena itu adalah pekerjaan saya,” kata nenek Sahnun.

Anak angkat nenek Sahnun, Raehan menyampaikan, selama enam tahun terakhir ini, nenek Sahnun bukan kali ini saja mengalami gigitan anjing. Tahun lalu ungkap Raehan, sempat digigit anjing pada bagian betisnya. Saat itu kata Raehan, ia sedang memungut plastik di sekitar Karang Jangkong Mataram.

“Iya, dulu pernah digigit. Tapi gitu dah, esok harinya dia memulung lagi,” katanya kepada Suara NTB di Mataram.

Menurut Nazamuddin, nenek Sahnun adalah manusia langka. Sangat jarang ungkap Nazamuddin menemui pemulung segigih nenek Sahnun. Dengan gaya khasnya lanjut Nazamudin, ia selalu menolak jika dilarang untuk memulung.

“Padahal saat itu dia (nenek Sahnun) sedang sakit. Tetap saja pergi memulung,” kata Nazamuddin.

Hadiah Umrah yang akhirnya diterima nenek Sahnun kata Nazamudin, sangat pantas untuknya. “Dia bukan pengemis, dia orang yang sangat rajin. Jadi, sangat wajar untuk menerima hadiah itu. Mudah-mudahan dia bisa tetap mau menerima. Karena kita tahu, dia memilik sifat pemalu untuk menerima pemberian dari orang lain. Saya harap dia siap agar bisa berangkat November 2019 mendatang ke Mekah,” katanya.

Berkurban Lagi

Pada hari Idul Adha 1440 hijriah ini, dari lingkungan Karang Jangkong sendiri, ada sembilan ekor sapi yang akan dikurban, salah satunya sapi dari nenek Sahnun. Pada Idul Adha tahun ini, nenek Sahnun akan membagikan sapi kurbannya kepada keluarga yang ada di Narmada dan masyarakat di lingkungan Karang Jangkong Mataram.

“Saya akan pulang besok setelah sapi itu saya sembelih. Niatnya mau nginep di Narmada agar bisa istirahat di sana,” kata Sahnun.

Nenek Sahnun berniat untuk terus berkurban. Ia menyampaikan niatnya untuk menyumbang pada Hari Raya Kurban tahun depan. Dengan nada malu, nenek Sahnun ingin membeli sapi lagi pada tahun depan. “Mudah-mudahan masih sehat. Saya akan berusaha untuk mengumpulkan uang untuk membeli hewan kurban lagi tahun depan. Semoga bisa.  Amin,” katanya.

Setelah mengumpulkan uang dari hasil memulung selama lima tahun terakhir untuk membeli seekor sapi untuk dikurban, nama nenek Sahnun viral di media sosial. Membeli seekor sapi dengan harga Rp 10 juta dari hasil memulung membuatnya tersohor.

Hampir delapan tahun, nenek Sahnun tinggal di Mataram untuk memulung botol dan gelas plastik bekas. Uang yang dikumpulkan nenek Sahnun kerap ia tabung demi membeli hewan kurban.

Pada Jumat, 9 Agustus 2019 malam, nenek Sahnun dibawa ke salah satu salon ternama di Mataram Mall. Seorang pengusaha asal Kota Mataram membawa nenek Sahnun untuk dirias. Nenek Sahnun dengan gaya khas sendal jepit dan sarung khas wanita Lombok ini tidak pernah memerhatikan penampilannya. Profesi menjadi pemulung membuat penampilan nenek Sahnun harus mendapat perhatian. (viq)