Meningkat, Kasus Gizi Buruk di NTB

Kepala Ruang Anak RSUD Dompu, Iin Iskanturani, saat mengecek kondisi balita penderita gizi buruk kronis yang ditangani awal tahun ini, Kamis, 3 Januari 2019. (Suara NTB/jun)

Mataram (Suara NTB) – Angka kasus gizi buruk tahun 2018 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dinas Kesehatan (Dikes) NTB mencatat, sepanjang 2018, sebanyak 217 kasus buruk ditemukan di 10 kabupaten/kota.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dikes NTB, Dra. Panca Yuniarti, Apt menyebutkan, tahun 2017, kasus gizi buruk di NTB sekitar 187 kasus. Sedangkan pada 2018 meningkat menjadi 217 kasus.

Dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Kamis, 3 Januari 2019 siang, Panca Yuniarti mengatakan penyebab gizi buruk tersebut banyak cacat bawaan seperti jantung, bocor jantung, Pneumonia Berat. Meningitis, Hepatitis , ISPA, Epilepsi,  Paru , Cerebral Palsy, Bronchitis Akut, Diare, Anemia dan lainnya.

‘’Penyebabnya pada saat hamil, tidak ke Posyandu, gizi mikro tak cukup. Harusnya pada saat hamil gizi tercukupi, janinnya juga akan sehat,’’ kata Panca Yuniarti.

Ia berharap ada kesadaran masyarakat untuk menekan angka kasus gizi buruk di NTB. Masyarakat diminta memiliki kesadaran untuk datang ke Posyandu, terutama bagi ibu yang sedang hamil.

‘’Dengan ke Posyandu maka akan terdeteksi dari awal. Gizinya cukup, vitamin cukup, janin yang tumbuh akan normal,’’ ujarnya.

Untuk itu sedang digalakkan gerakan masyarakat hidup sehat. Termasuk juga petugas Puskesmas mendata keluarga di lapangan terkait dengan kondisi kesehatan masyarakat.

‘’Harapan kita dengan adanya Posyandu, ibu punya kesadaran. Kasusnya Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat yang memang meningkat kasusnya,’’ kata Panca Yuniarti.

Ia merincikan 217 kasus gizi buruk yang ditemukan pada 2018 terdiri dari laki-laki 109 kasus dan perempuan 108 kasus. Tiga kabupaten terbanyak kasus gizi buruk yakni Lombok Timur 38 kasus, Lombok Utara 36 kasus dan Lombok Barat 31 kasus.

Strategi yang dilakukan menekan kasus gizi buruk di NTB adalah 1.000 hari pertama kehidupan. Menjadi awal kehamilan agar tercukupi gizi mikro maupun gizi makro. (nas)