Warga Pohgading Timur Gelar Ritual “Tetulak Pesisi”

Warga Sukamulia Desa Pohgading Timur membawa dulang ke pantai sebagai salah satu rangkaian ritual adat Tetulak Pesisi yang digelar Pokdarwis Pondok Kerakat. (Suara NTB/rus)

Advertisement

Selong (Suara NTB) – Warga Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menggelar ritual budaya tetutak pesisi di Pantai Kerakat Gading, Senin, 31 Desember 2018. Acara diikuti oleh tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat.

Prosesi  acara tetulak pesisi ini digelar sebagai salah satu bentuk ungkapan syukur warga pada sang Pencipta.  Ketua Panitia Pelaksana yang juga Ketua Pokdarwis Pondok Kerakat Asri, menjelaskan, acara ritual budaya tetulak pesisi ini setiap tahun digelar oleh masyarakat nelayan di Pohgading Timur.

Dulu acaranya tutur Asri kecil-kecilan saja. Sebagai pertanda syukur dari para nelayan yang diiringi dengan permohonan doa-doa kepada Yang Maha Kuasa agar dilindungi dari segala macam bahaya.

Kini digelar kembali juga dalam rangka ritual menolak bala. Pilihan cara yang dilakukan semata hanya sebagai alat. Soal kehendak, semuanya katanya merupakan kehendak dari Allah, karenanya dalam rangkaian acaranya, digelar dzikir dan doa bersama.

Dalam hal ini, ujarnya, warga membawa dulang atau tempat makan dan mengajak warga zikir dan doa langsung di pinggir pantai. Sebelum dilakukan zikir dan doa, dilakukan pawai dulang. Hal ini sebagai salah satu upaya menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

Kepala Dinas Pariwisata Lotim, Muhammad Juhad memberikan apresiasi terhadap pelaksana acara. Menurutnya, apa yang dilakukan ini bias menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung. Pemerintah Daerah Kabupaten Lotim sendiri saat ini terus berusaha untuk mengembangkan destinasi wisata menjadi lebih baik, termasuk Pantai Kerakat Gading yang secara pelan-pelan ditata menjadi salah satu destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan.

NTB pada umumnya dan Lotim pada khususnya memiliki potensi wisata yang sangat indah. Gunung lembah dan pantai dengan fanorama yang luar biasa. Belum lagi adat istiadat serta kebudayaan masyarakat Lotim.

Juhad mengharapkan, dalam mengembangkan pariwisata tetap harus mempertahankan kearifan lokal dan tidak mudah terpengaruh budaya luar.  Kepada para pokdarwis dan para guide diingatkan agar tidak terpengaruh dengan budaya-budaya luar. Begitupun dalam hal berpakaian, tetap harus menggunakan pakaian sesuai adat istiadat. Bahkan disarankan memakai pakaian adat Sasak dalam menyambut para wisatawan. (rus)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.