Belum Difungsikan, Gubernur Kembali Soroti Terminal Haji

Terminal haji di areal Lombok International Airport (LIA) (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc kembali menyoroti pemanfaatan aset-aset daerah yang tidak optimal, salah satunya terminal haji yang berada di areal Lombok International Airport (LIA). Gubernur tidak ingin aset-aset daerah  seperti terminal haji, rumah dinas yang berdiri di tengah kota menjadi kumuh.

‘’Banyak sekali aset-aset kita yang belum optimal. Saya lihat banyak rumah-rumah dinas kita jadi rumah kumuh di tengah kota. Juga saya lihat bangunan di bandara,’’ kata gubernur saat acara Jumpa Bang Zul dan Ummi Rohmi di Rumah Sakit Mata NTB, Jumat, 28 Desember 2018 siang.

Terkait dengan terminal haji, gubernur secara khusus meminta Kepala Dinas Perhubungan agar memfungsikan aset daerah tersebut. Ia mengatakan, sangat disayangkan jika aset daerah yang sudah dibangun dengan dana negara miliaran rupiah tersebut tak bisa dimanfaatkan.

‘’Kalau ndak dipakai nanti menjadi kumuh, rusak, tempat sampah. Sayang dana negara menguap begitu saja. Mudah-mudahan dicari cara, supaya menjadi tempat apa. Apakah sekretariat bersama, agar bisa dimanfaatkan,’’ saran gubernur.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan NTB, Drs. L. Bayu Windia, M. Si yang dikonfirmasi mengatakan terminal haji akan tetap dimanfaatkan untuk kepentingan jemaah haji. Ia mengatakan, mulai musim haji tahun depan, bangunan yang sudah lama tak difungsikan tersebut akan digunakan oleh jemaah calon haji NTB.

‘’Pelaksanaan haji itu kan berlangsung 1-2 bulan. Di luar itu nanti kita pikirkan (penggunaan terminal haji). Ada beberapa skema yang coba kita mau usulkan. Mungkin nanti kerjasama dengan swasta di luar yang penggunaan dua bulan untuk pelaksanaan haji,’’ kata Bayu.

Ia mengatakan, fungsi utama bangunan tersebut sebagai terminal haji. Ia memastikan tak ada tukar guling terminal haji dengan Kantor Imigrasi. Untuk pemanfaatan terminal haji, pihaknya akan membangun koordinasi dengan pihak bandara dan Kanwil Kemenag NTB.

Dikatakan, pemberangkatan JCH NTB dari asrama haji menuju pesawat tidak langsung naik. Tetapi JCH menunggu di dalam bus dalam jangka waktu yang lama. Di sisi lain, jika JCH sudah di dalam bus maka tidak boleh lagi keluar masuk.

‘’Terhadap yang mau menunaikan hajat, salat subuh, selama ini tak bisa dibuka lock dari Imigrasi. Kecuali kalau sudah naik pesawat. Ini menurut kami kurang nyaman jemaah haji. Dengan adanya terminal haji, mereka berhenti di situ. Kalau mau salat, buang hajat, masih bisa,’’ katanya.

Bayu mengatakan, pada musim haji 2019, terminal haji sudah dapat digunakan sebagai ruang tunggu penumpang sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci. ‘’Sudah fungsional,’’ katanya.

Proyek Terminal Haji LIA  mulai dikerjakan kembali pada 2017 dan 2018. Beberapa item pekerjaan yang dikerjakan dalam  proyek rehabilitasi terminal haji/TKI ini seperti perbaikan plafon, rumah jaga, tembok keliling. Termasuk juga memasang jaringan listrik dan air bersih.

Sebelum proyek ini berjalan, kondisi terminal haji memang sangat memprihatinkan. Kondisi bangunan utama, plafon dan jendela banyak yang pecah.  Tahun 2015 lalu tidak ada paket pekerjaan yang dilaksanakan untuk proyek terminal haji/TKI. Begitu juga tahun 2016.

Pembangunan gedung terminal haji LIA  sempat terhambat  pada tahun 2014. Pasalnya, pembangunan gedung itu sedang dalam penanganan  aparat penegak hukum. Selain  itu, pembangunannya juga terhambat lantaran adanya gangguan dari masyarakat sekitar yang masih mengklaim persoalan terminal haji.

Proyek terminal haji LIA  dimulai sejak tahun anggaran 2011, dengan total kebutuhan anggaran sebesar Rp16,63 miliar lebih. Pada 2011 dialokasikan anggaran sebesar Rp8,81 miliar lebih. Pada 2012 dialokasikan lagi sebesar Rp1,09 miliar lebih dan pada 2013 sebesar Rp 1,73 miliar lebih. Pada tahun 2014 lalu, anggarannya  sebesar Rp650 juta untuk pembangunan sayap kiri dan kanan terminal haji. (nas)