Perpusnas Dorong NTB Kembangkan Perpustakaan Digital Berkonten Lokal

Kepala Perpusnas RI, Muh. Syarif Bando (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Melihat perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI mendorong NTB mengembangkan perpustakaan digital berkonten lokal.

Kepala Perpusnas RI, Drs. Muh. Syarif Bando, MM mengatakan, jika berbicara tentang perpustakaan dan pendidikan. Pendidikan berbicara tentang teori-teori universal. Sedangkan perpustakaan bicara tentang realita konten di suatu wilayah.

‘’Tidak ada guru  tentang NTB. Tetapi ribuan buku tentang NTB. Itulah perpustakaan. Maka tugas Kepala Dinas adalah memastikan semua buku yang terkait dengan NTB harus ada. Sejarah, potensi sumber daya alam, SDM, kebudayaan, kesenian, artefak, pariwisata, semua harus dibukukan,’’ kata Syarif.

Hal tersebut dikatakan Syarif dikonfirmasi usai bertemu Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc di ruang kerjanya, Jumat, 23 November 2018 siang. Syarif menekankan pentingnya daerah menyiapkan buku-buku berkonten lokal. Pasalnya, jika Pemda minta buku ke pusat tak akan menjamin buku yang diberikan cocok untuk NTB.

‘’Paradigma perpustakaan harus diubah. Dari yang dikunjungi menjadi dijangkau masyarakat. Dengan fasilitas teknologi informasi, kita harus menciptakan suatu aplikasi. Di mana seluruh konten-konten perpustakaan masuk di aplikasi tersebut,’’ ujarnya.

Konten-konten buku bacaan dalam perpustakaan digital tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari media-media masyarakat umum. Karena sekarang ibu rumah tangga sampai anak-anak sudah memiliki gadget.

‘’Kalau tak mengisi dengan berbasis pengetahuan, dia akan habis waktunya untuk mengakses konten game. Statistiknya 90 persen masyarakat punya gadget itu mengakses game. Itu tak bisa disalahkan,’’ katanya.

Konten gadget kebanyakan game maka sekitar 90 persen yang mengakses game. Tetapi jika konten yang disajikan pengetahuan, secara tidak langsung masyarakat akan membukanya untuk melihat resep memasak, usah kecil, jasa dan lainnya.

Ia menyebutkan,  92 persen masyarakat Indonesia tamatan SD, SMP dan SMA. Hanya 8 persen sarjana. ‘’Karena itu, konten yang dibutuhkan buku-buku ilmu terapan dan teknologi tepat guna. Ini harus sebanyak mungkin dimasukkan di aplikasi teknologi. Kemudian mereka bisa baca,’’ sarannya.

Syarif mengatakan, pihaknya mendorong NTB mengembangkan  perpustakaan digital berkonten lokal. ‘’Prinsip adalah konten digital harus berbasis lokal,’’ katanya.

Sehingga ketika orang ingin mencari informasi tentang NTB cukup membuka perpustakaan digital. Syarif mengatakan Perpusnas akan mendukung NTB mengembangkan perpustakaan di daerah ini.

“Ada dana dekonsentrasi, Dana Alokasi Khusus (DAK). Tetapi ada mekanismenya. Harus ada perencanaan dimulai dari Bappeda kemudian Bappenas. Maka koordinasi antara pusat daerah harus matang. Sehingga terkoneksi dengan aplikasi di Bappenas itu,’’  terangnya. (nas)