BPTD Kaji Usulan ‘’Extra Trip’’ Lembar – Padangbai

Aktivitas di Pelabuhan Lembar (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) XII Kementerian Perhubungan RI langsung menggelar rapat Kamis, 15 November 2018 membahas keinginan penambahan trip oleh PT. ASDP Indonesia Ferry. Alasan extra trip untuk mengurai lambannya bongkar muat akan dikaji dan disinkronkan dengan fakta sejumlah kendala. Seperti dermaga terbatas, cuaca di laut dan kondisi kapal.

Kepala BPTD, Koda Pahlianus Nelson D, kepada Suara NTB usai rapat petang kemarin, mengakui topik penting yang dibahas adalah extra trip, dari sebelumnya 32 trip menjadi 36 trip. Rapat digelar bersama PT. ASDP Lembar sembari mendengarkan sejumlah pertimbangan extra trip dengan alasan mengurai kemacetan bongkar muat.

‘’Kami rapat di Syahbandar, kira kira formula apa yang pas. Sekarang sedang dievaluasi, untuk penerbitan jadwal baru itu, sesuai permintaan ASDP itu,’’ kata Nelson.

Mengenai surat usulan ASDP selaku regulator pengaturan aktivitas penyeberangan Lembar, pihaknya selaku pengawas sedang melakukan kajian. Ada empat aspek yang dilihatnya, bisa jadi bahan rujukan pengambilan keputusan. Diantaranya, kata Nelson, ketersediaan dermaga. Di mana, dermaga Padangbai hanya Dermaga 1 yang berfungsi maksimal.

‘’Dermaga dua ndak bisa dipakai nyandar kalau posisi air pasang top. Begitu juga kalau posisi air surut top, ndak bisa. Kalau permukaan air laut stabil, baru kapal bisa nyandar,’’ paparnya.

Sementara cuaca juga berpengaruh pada pengaturan trip. Gelombang dan kecepatan angin diyakini berpengaruh pada laju kapal sampai di dua dermaga. Ke tiga, terkait usia kapal dengan mempertimbangkan kondisi mesin dan kecepatan labuh.

Baca juga:  Tarif Penyeberangan Lembar-Padangbai akan Naik

‘’Kalau tidak didukung tiga kondisi ini, ya akan masalah lagi. Tapi kita lihat factor-faktor itu, dermaganya, armadanya, cuacanya,’’ ujarnya.

Tiga situasi itu akan jadi skala ukur kemungkinan menyetujui atau tidak usulan ASDP tersebut. Namun jika penambahan trip adalah solusi terbaik mengurai kemacetan di dua dermaga, maka sangat dimungkinkan disetujui pihaknya.

Intinya berbagai upaya dan formula akan ditempuh untuk mengurangi masalah penyeberangan, khususnya di Pelabuhan Lembar. Dia bersyukur, tiga hari terakhir, situasi sudah mulai membaik. Tidak terlihat antrean bongkar muat beberapa jam. Dia berharap, situasi ini dipertahankan dan dapat ditingkatkan tidak saja Persero ASDP, juga para operator atau pengusaha kapal.

 

Sebelumnya, Ombudsman NTB meminta PT. ASDP Indonesia Ferry  mengkaji ulang kemungkinan penambahan trip (extra trip) kapal untuk melayani penyeberangan Lembar – Padangbai. Sebab dengan 23 trip saat ini, kondisi penyebrangan lintas provinsi itu sering mengalami keterlambatan bongkar muat.

Penambahan trip itu disampaikan ASDP kepada Ombudsman NTB. Dalihnya, untuk mengurai dampak keterlambatan bongkar muat, baik di Pelabuhan Lembar Lombok Barat maupun di Padangbai Bali.  Dalam surat itu, ASDP mencatat saat ini ada 32 trip yang melayani penyeberangan dari Bali – Lombok dan sebaliknya. Jumlah itu dianggap tidak cukup, sehingga harus ada enam ekstra trip sehingga menjadi 38 trip.

Ombudsman RI Perwakilan NTB meminta pihak ASDP meninjau  kembali kemungkinan penambahan trip tersebut jika dikondisikan pelayanan saat ini, sebab dianggap belum membaik akibat kerap terjadi keterlambatan bongkar muat.

Bongkar muat di Lembar dan Padangbai dilihatnya simpul persoalan ada pada kurang berimbangnya dermaga di dua tempat. Sebab diketahui, di Padangbai saat ini hanya satu yang efektif, sementara dermaga satu lagi dalam perbaikan. Sementara di Lembar ada tiga dermaga dan hanya dua yang dimaksimalkan.

Baca juga:  Bupati dan Pelindo Tandatangani MoU, Pelabuhan Teluk Santong Segera Terwujud

Jika dua dermaga belum settle dari segi kuantitas, dikhawatirkan pelayanan akan terus pincang. Ini kemudian menyebabkan terganggunya pelayanan masyarakat di dua pelabuhan.

Baginya  extra trip bisa saja diberlakukan, namun harus melalui kajian matang, tidak sampai menjadi masalah baru untuk kondisi pelayanan yang masih disoroti saat ini.   Terlebih kondisi kapal tidak upgrade, sehingga masih ada  kapal yang ‘uzur’ beroperasi dan berpengaruh pada kecepatan.

 Sementara ASDP dalam pertimbangannya, terjadi peningkatan jumlah penumpang dan barang lintas Bali – Lombok. Penambahan trip itu untuk mengurai kemacetan dan lamanya antre kapal di dua dermaga. Selama ini pemberlakuan ekstra trip yang tidak terjadwal, ikut menjadi biang masalah kemacetan bongkar muat. ASDP ingin membuat kebijakan, empat trip ekstra tak terjadwal sebelumnya dipatenkan menjadi regular yang terjadwal.

Dengan penambahan itu, akan diikuti dengan pengurangan waktu sandar atau port time dari 90 menit menjadi 60 menit.  Dengan pola pengaturan, port time 60 menit dari Pukul 00.00 Wita sampai pukul 02.00 Wita untuk tiga trip, port time 90 menit dari pukul 03.30 Wita sampai pukul 17.00 Wita untuk 10 trip dan port time 60 menit pada pukul 18.00 Wita sampai pukul 23.00 Wita untuk enam trip. (ars)