“Extra Trip” Pemicu Bongkar Muat Kapal di Lembar Lamban

Ilustrasi antrean kendaraan di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat. (Suara NTB/her)

Mataram (Suara NTB) – PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengakui, salah satu penyebab lambannya bongkar muat di Pelabuhan Lembar akibat extra trip. Penambahan trip ini tidak terjadwal, sehingga menyebabkan kapal pada waktu waktu tertentu antre beberapa jam.

Demikian klarifikasi PT. ASDP atas surat yang dilayangkan Ombudsman tanggal 24 Oktober 2018 lalu. Dua poin penting dalam surat klarifikasi yang dikirim 2 November itu, salah satunya soal extra trip tersebut.

‘’Jadi ada yang tidak berlayar karena docking, lantas karena permintaan pelayanan, sehingga diisi dengan extra trip ini. Inilah yang tidak terikat  dengan jadwal. Sehingga memicu antrean beberapa jam itu,’’ kata Kepala Ombudsman RI Perwakilan NTB, Adhar Hakim, SH.,MH kepada Suara NTB  di ruang kerjanya, Kamis, 8 November 2018.

Pada data yang diberikan ASDP, ada empat kapal yang melayani extra trip, masuk diantara kapal reguler. Kondisi itu menyebabkan kapal lama mengapung. Sebab penambahan trip yang tidak terjadwal.

Contoh kasus pada trip tanggal 20 – 21 Oktober 2018 lalu. Sejumlah kapal itu diantaranya, Kapal Munic III, bertolak dari Pelabuhan Padangbai, Bali pukul 23.10 Wita, tiba di lembar 03.30 Wita. Namun harus menunggu sandar 1 jam 45 menit.  KM Masagena berangkat dari Padangbai pukul 01.05 Wita, tiba di Lembar 05.35 harus antre 1 jam 35 menit.

Kapal Tertiera tiba di Lembar pukul 08.05 Wita setelah bertolak dari Bali pukul 03.15 Wita dan harus antre 2 jam 5 menit. Paling lama  dialami KM Muryati, harus antre hingga tiga jam, setelah berangkat dari Bali pukul 04.05 Wita dan tiba di Lembar pukul 08.55 Wita.

 Masalah lain adalah leletnya kapal. Dari 36 kapal yang beroperasi, tidak semua memenuhi standar

kecepatan 10 knots yang disesuaikan dengan jadwal bongkar dan muat.   Estimasi waktu tempuh 4 jam 30 menit dengan port time 90 menit. Dalam surat klarifikasi PT. ASDP, perbedaan speed kapal itu berakibat tidak konsistennya waktu tiba di Pelabuhan Lembar.

‘’Misalnya, kapal yang lamban ini start duluan. Sementara kapal kecepatan standar 10 knots dijadwal berikutnya. Ketemu di laut, ini kapal yang kecepatannya standar  kan tidak bisa menyalip. Harus menunggu sampai benar- benar kapal yang berangkat duluan sampai di Lembar,’’ urai Adhar terkait surat PT. ASDP.

Pelabuhan Lembar sebenarnya memiliki kelengkapan dermaga. Dua dermaga Movable Bridge (MB) dan satu dermaga plengsengan atau dermaga darurat.

Kendalanya tetap ada di Padangbai. Di pelabuhan milik Provinsi Bali itu hanya terdapat dua dermaga MB. Namun saat ini hanya satu yang bisa difungsikan maksimal karena dermaga lainnya masih dalam perbaikan.

“Praktis hanya satu yang bisa difungsikan,” ujar Adhar.

Dua kendala besar di atas diakui sedang diatasi  manajemen PT. ASDP. Demi terus memperbaiki pelayanan, perusahaan milik negara itu berusaha memaksimalkan kualitas dengan berkoordinasi ke Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD).

Sesuai peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 154 tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengelola Transportasi Darat. Sebab PT. ASDP sebagai regulator yang memiliki kewenangan dalam pengaturan, pengawasan dan pembuatan jadwal kapal penyebrangan.

Harapan Ombudsman, dengan banyaknya keluhan masyarakat itu, agar ASDP terus memperbaiki pelayanan.  Karena bagaimana pun juga Lembar adalah pintu masuk NTB. “Jadi wajah NTB ini dari Lembar. Kalau pelayanan terus seperti ini akan berdampak buruk pada citra daerah,” tandasnya.

Meski sudah ada jawaban, namun Ombudsman  akan terus memantau tiap perkembangan perbaikan pelayanan di Pelabuhan Lembar. Pihaknya akan menilai keseriusan ASDP, bahkan akan berkoordinasi sampai ke Kementerian Perhubungan, sebab kewenangan Pelabuhan Lembar – Padangbai ada di pusat. (ars)