Pemprov Tegaskan Pengiriman Mahasiswa ke Luar Negeri Tak Gunakan APBD

Kepala Bappeda NTB, Ridwan Syah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB menegaskan program pengiriman mahasiswa ke luar negeri tak menggunakan APBD sepeserpun. Pengiriman anak muda NTB untuk belajar ke luar negeri murni atas pembiayaan di luar anggaran pemerintah.

‘’Hasil diskusi dengan Pak Gubernur, tak akan menggunakan APBD. Banyak orang menawarkan beasiswa,’’ kata Kepala Bappeda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M. Sc, M.TP di Kantor Gubernur, Rabu, 17 Oktober 2018 siang.

Ia menjelaskan, program beasiswa NTB ini merupakan  penjabaran visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB. Komitmen pertamanya adalah  mengirim 1.000 anak muda NTB belajar  ke luar negeri. Program ini untuk masyarakat NTB. Pengiriman 1.000 mahasiswa itu untuk lima tahun ke depan.

‘’Kita lihat, ini  sebuah lompatan yang tak terpikirkan. Sekarang kami mendetailkan program ini dalam RPJMD. Anggarannya dari mana? Tak akan menggunakan APBD,’’ tegas Ridwan.

Lantas apa intervensi pemerintah provinsi dalam program ini? Ridwan menjelaskan Pemprov akan menyiapkan anak-anak muda NTB agar memenuhi syarat menjadi penerima mahasiswa ke luar negeri. Salah satu syaratnya, anak-anak muda NTB harus lancar berbahasa Inggris.

‘’Pemprov memfasilitasi supaya sebanyak-banyaknya anak NTB memenuhi syarat. Dikursuskan. Siapa yang memfasiliasi kursus ini? Lembaga yang punya akreditasi. Menyiapkan mereka, memenuhi syarat. Melakukan rekrutmen secara terbuka di bawah koordinasi Dinas Dikbud sebagai leading sector,’’ terangnya.

Untuk tahap pertama, sebanyak 18 mahasiswa NTB dikirim ke Polandia. Ridwan mengatakan banyak yang bertanya darimana anggaran untuk pengiriman mahasiswa tersebut. Ridwan memastikan anggarannya tak menggunakan APBD.

Ridwan menjelaskan, sumber pembiayaan pengiriman mahasiswa NTB ke luar negeri ini berasal dari donasi BUMN, BUMD, dan dunia usaha yang ada di NTB, seperti PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).

Koordinator Program Beasiswa NTB, Irwan Rahadi mengatakan, awalnya program ini banyak yang meragukan. Ia mengatakan, dalam waktu yang sangat singkat, mampu dilakukan seleksi terhadap belasan mahasiswa yang sekarang lolos seleksi untuk kemudian dikirim kuliah ke Polandia.

Dikatakan, seleksi dibuka 13-18 September lalu. Jumlah peserta yang mendaftar 353 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 93 orang lolos seleksi administrasi. Kemudian yang lolos seleksi wawancara 20 orang.

Dari 20 orang tersebut, sebanyak 19 orang yang dikirim untuk tahap pertama. Mereka akan kuliah S2 di dua universitas di Polandia. Yakni 5 orang di Collegium Civitas dan 14 orang di Vistula Group University.

Sebanyak 2 orang mengambil jurusan Master of Computer Engineering, 1 orang Master of Energy Management, 3 orang Master of International Peace and Conflict Studies, 4 orang Master of International Relation, 2 orang Master of Management dan 7 orang mengambil jurusan Master of Tourism and Recreation.

‘’Beasiswa gelombang kedua, awal tahun depan. Gelombang III pada semester ganjil,’’ jelasnya. (nas)