10 Tahun Derita Katarak, Warga Miskin di Bima Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

Bima (Suara NTB) – Rasid warga Desa Sandue Kecamatan Sanggar setiap harinya harus menunggu belas kasihan dari para tetangga dan warga setempat untuk bertahan hidup, karena hidup dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan.

Sejak menderita buta katarak sejak 10 tahun, A. Rasid bersama sang ibu yang berusia senja serta menderita gangguan pendengaran dan penglihatan tinggal di gubuk reot yang berdindingkan anyaman bambu di RT 07 RW 04 Desa Sandue.

“Sejak menderita katarak pak A. Rasid dan ibunya hanya mengandalkan bantuan dari tetangga mencukupi kebutuhan sehari-hari,” kata tetangga A. Rasid, Arif Rahman.

Bahkan setiap harinya, pria 48 tahun tersebut hanya bisa menjalani aktivitas di sekitar rumahnya. Tidak bisa bekerja untuk mencari nafkah karena sakit katarak yang dideritanya cukup serius. “Hanya beraktivitas di rumah saja bersama dengan ibunya,” katanya.

Ironisnya, lanjut Arif sampai saat ini keluarga tersebut tidak pernah mendapat bantuan dari pihak manapun. Karena selama ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya bergantung dari belas kasihan dari para tetangga dan warga.

“Tidak ada bantuan hanya menunggu dari tetangga saja. Kadang dikasih makanan jadi, uang kadang juga beras dan lauk,” katanya.

Selain bantuan, bahkan keluarga tersebut kata Arif tidak pernah tersentuh program-program pengentasan kemiskinan dari Pemerintah. Seperti PKH, Sosial hingga program rumah layak huni lainnya. “Tidak hanya itu mereka sampai sekarang tidak memiliki Kartu Keluarga maupun Kartu Tanda Penduduk (KTP) sama sekali,” katanya.

Sebagai tetangga, Arif berharap besar kepada Pemerintah atau para dermawan yang mau membantu. Mengingat mereka tidak tahu lagi harus mengadu kemana untuk meminta pertolongan.

“Kami berharap ada dermawan atau pihak terkait yang membantu. Sebagai tetangga kami sangat prihatin, karena nyaris hidup serba kesulitan dengan kondisi fisik cacat,” pungkasnya. (uki)