Khawatir Gempa Susulan, Sejumlah Warga Mengungsi ke Kuburan

0
142

Mataram (Suara NTB) – Sebanyak 200 lebih KK mengungsi di Makam Syekh  Maulana TGH Mustafa Kamal Sekarbela. Mereka merupakan warga Lingkungan Persinggahan Kelurahan Pagesangan Barat Kecamatan Mataram. Semua warga yang mengungsi merasa lebih aman di kuburan ini daripada berada di rumahnya. Mereka semua khawatir akan adanya gempa susulan yang lebih besar.

“Kita ngungsi sudah sejak Minggu malam itu sampai sekarang. Tadi juga ada gempa susulan, kita khawatir gempa yang lebih besar akan terjadi lagi,” kata salah satu warga yang mengungsi di kuburan ini, Bahrudin, Kamis, 9 Agustus 2018.

Ia mengatakan semua warga yang mengungsi masih trauma dan takut kembali ke rumahnya. Mereka berjejal dengan anggota keluarganya demi merasakan suasana yang lebih aman dibandingkan berada di rumah.

“Kalau sebelumnya, siang itu kita pulang mandi dan masak. Tapi sekarang ndak berani, karena sekarang gempanya juga terjadi pada siang hari. Kalau kemarin-kemarin kan malam saja, sekarang gempa siang kita jadi semakin takut pulang,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Siti, Warga Pagesangan Barat ini bahkan membawa bayinya yang baru berumur dua bulan ke pengungsian. Ia merasa anaknya akan lebih aman berada di pengungsian daripada di rumahnya.

“Saya takut pulang, apalagi saya punya anak kecil. Saya memang khwatir dengan kesehatan anak saya kalau tidur di tenda seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Saya lebih merasa aman di sini daripada di rumah,” ujarnya.

Ia bersama ratusan warga lainnya mendirikan tenda menggunakan terpal dan tikar seadanya. Belum ada bantuan tenda, matras maupun selimut dari Pemkot Mataram. Ia berharap bisa diberikan bantuan tenda, sehingga dapat menidurkan bayinya dengan lebih nyaman.

“Harapannya diberikan tenda, jadi kami bisa istirahat lebih nyaman. Kalau makanan mungkin tidak perlu, karena di sini kan banyak yang jualan juga. Yang kami perlukan itu tenda, matras dan selimut,” ujarnya.

Gempa susulan berkekuatan 6,2 SR pada Kamis siang kemarin juga menambah trauma warga. Mereka lebih takut lagi untuk kembali ke rumah. Apalagi beberapa dari mereka ada yang rumahnya dalam kondisi retak dan ada juga yang sudah mengalami kerusakan sedang. (lin)