Orangtua di Mataram Tolak Anaknya Diimunisasi

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah orangtua siswa di SMPN 2 Mataram, menolak mengimunisasi anak mereka. Alasannya, mereka belum mendapat informasi lengkap soal efek samping imunisasi tersebut, termasuk halal atau haramnya imunisasi Rubella tersebut.

Raditya, misalnya,memilih duduk di belakang ketika petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Mataram, akan memberi imunisasi gratis. Siswa kelas VII itu menolak imunisasi, karena dilarang oleh orangtuanya. “Ibu larang saya imunisasi,” jawabny, Rabu, 1 Agustus 2018.

Tidak diketahui persis alasan orangtuanya melarang ikut imunisasi bersama rekannya. Tapi pesan ibunya itu diikuti saja. Hal sama juga disampaikan Salsabila. Siswi kelas VIII ini, juga menolak imunisasi di sekolah. Orangtua Salsabila meminta agar imunisasi ke dokter saja. Perkaranya bukan masalah halal dan haram, tapi kepastian obat imunisasi berdampak baik atau tidak bagi kesehatannya.

Kepala SMPN 2 Mataram, Lalu Suwarno menyebutkan, sebanyak 1.098 siswa mulai kelas VIII sampai IX akan diimunisasi rubella. Namun Suwarno tak memungkiri jika sebagian orangtua menolak mengimunisasi anak mereka. Penolakan itu diperkirakan akibat informasi manfaat imunisasi tidak sampai ke orangtua. “Nanti kita akan undang untuk memberi penjelasan,” katanya.

Kepastian wali murid menolak imunisasi tidak diketahui persis. Namun demikian, sekolah tetap memberikan edukasi ke siswa agar mau disuntik. Kebijakan imunisasi rubella kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Usman Hadi, masih pro – kontra mengenai halal dan haramnya. Kontroversi ini perlu diluruskan oleh Kementerian Kesehatan. Disamping, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga belum mengeluarkan sertifikat terkait vaksin tersebut. “Iya, ini masih pro – kontra,” jawabnya.

Dijelaskan, dari aspek kesehatan sebenarnya vaksin ini baik.  Terutama bagi ibu yang mengandung. Penting sekali bagi pasangan sebelum menikah memeriksa kesehatannya. Jangan sampai virus TOCRH menjangkiti perempuan hamil. Dampaknya bisa terjadi kelainan pada anak yang lahir. “Bisa terjadi katarak dan kelainan yang lain. Kalau begitu cenderung terkena gizi buruk,” tambahnya.

Ketua MUI Kota Mataram, H. Abdul Hanan menyampaikan, imunisasi rubella ini, MUI tidak berbicara soal halal dan haramnya. MUI hanya memberi rekomendasi kepada masyarakat demi kenyamanan.

Secara kelembagaan MUI terlambat menyampaikan secara administrasi. Sementara, gerakan secara nasional program imunisasi telah berjalan.

Menurut Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh, bahwa imunisasi ini penting terkait dampak virus rubella serta jadi program nasional mewujudkan generasi emas. Pencanangan program ini ditargetkan ke semua peserta didik. Walikota menargetkan 117 ribu anak imunisasi selesai pada akhir Agustus mendatang. “Bulan September fokus ke masyarakat melalui institusi kesehatan,” kata dia. Perkara halal dan haram yang menjadi pro – kontra, masyarakat tidak perlu khawatir. Masyarakat harus melihat dampak positif dari imunisasi tersebut. (cem)