Distribusi Logistik Terbatas, Warga Korban Gempa Dijatah Sebungkus Mi Instan Per orang

Tanjung (Suara NTB) – Warga Dusun Kebon Patu, Desa Sukadana Kecamatan Bayan pada dasarnya sudah tersentuh bantuan pemerintah untuk korban gempa bumi. Namun dikarenakan jumlah pasokan terbatas, membuat pihak dusun kesulitan membagi sembako secara merata kepada seluruh korban terdampak gempa bumi di dusun itu.

Pantauan koran ini, Selasa, 31 Juli 2018, warga yang tinggal di dusun terdalam dari Desa Sukadana ini belum dapat bekerja secara rutin. Mereka kebanyakan masih trauma. Di dusun ini, warga yang bermukim adalah masyarakat yang beragama Islam dan Hindu. Sehingga dari pembagian RT nya, RT 1 dikepalai oleh penduduk Muslim dan RT 2 dikepalai oleh penduduk beragama Hindu. Berbeda agama, namun masyarakatnya berbaur dan hidup secara berdampingan dengan rukun dan damai.

Dusun Kebon Patu adalah wilayah administratif perluasan di Desa Sukadana. Letaknya di wilayah hutan produksi. Tidak heran, untuk mencapai ke dusun tersebut harus melewati jalan tanah antara 5 – 7 km.

Kadus Kebon Patu, Sukrasih, mengungkapkan jumlah warganya yang terkena dampak hampir seluruhnya, atau sebanyak 82 KK (253 jiwa). Dengan rincian perumahan yang rusak terdiri dari 10 KK/rumah rusak berat, termasuk kediaman Kadus. Rusak sedang sebanyak 9 rumah dan rusak ringan sejumlah 7 rumah.

“Sampai hari ini, kami masih tinggal di tenda-tenda pengungsian darurat. Saya minta kepada warga untuk tidak bermukim di satu posko, karena mereka juga harus menjaga ternak masing-masing,” kata Sukrasih.

Sejak gempa pada Minggu lalu, bantuan sembako yang diterimanya masih minim. Bantuan datang ke Kebon Patu pada H+1 bencana, atau pada Senin lalu. Bantuan itu pun belum dibagikan kepada warga. Alasannya, jumlahnya tidak cukup.

Dari alokasi pihak posko di Desa, Kebon Patu mendapat jatah mi instan 3 dus, beras 25 kg, gula pasir 2 kg, dan air 3 dus. Khusus untuk air bersih, warga tidak kesulitan karena akses perpipaan dari sumber air tidak putus. Berbeda dengan warga di dusun bagian bawah Kebon Patu seperti Dusun Baban Kuta, Dusun Sembagek, Lendang Jeliti, dan Dusun Batu Rakit, akses air minum terputus.

“Jumlah sembako memang sangat kurang. Untuk membagikan ke warga, saya masih harus menunggu bantuan hari kedua. Tetapi untuk hari ini (H+2) bantuan belum datang,” kata Kadus saat ditemui Selasa siang.

Sukrasih berkeinginan, seluruh warganya memperoleh bantuan walaupun jumlahnya sedikit. Jika tidak memungkinkan sekalipun, ia ingin setiap warga memperoleh 1 bungkus mi instan. Artinya kata Sukrasih, jika dalam keluarga itu terdapat 5 orang, maka satu keluarga itu memperoleh 5 bungkus mi instan dan 5 gelas air.

“Dari awal saya berpikir, bagaimana caranya membagi. Akhirnya kita putuskan untuk 4 nyawa 1 rumah maka dapat mi 4 bungkus dan air 4 gelas. Beras sampai sekarang belum kita bagi karena kurang jumlah. Kalau memang tidak cukup berasnya, maka kita tunda pembagiannya.”

Untuk diketahui, dari bantuan sembako yang diterima, Kadus belum berani membagi 25 kg yang dijatah oleh posko kabupaten/posko desa. Begitu pula dengan 2 kg gula pasir. Hanya 2 dus mi instan yang baru dibuka dan dibagikan kepada warga.

Bantuan kepada warga terdampak gempa di dusun pedalaman Sukadana ini memang tidak maksimal. Begitupun bantuan untuk anak-anak dan balita seperti makanan pendamping ASI, susu, biskuit, atau sama sekali belum dirasakan warga. “Untuk terpal saja terpaksa kita gunakan terpal banjar, nanti dikembalikan,” tandasnya. (ari)