Warga Pesisir Ampenan Perlu Direlokasi

Mataram (Suara NTB) – Gelombang pasangĀ  yang terjadi di sepanjang sembilan kilometer Pantai Ampenan merupakan siklus tahunan. Terhadap penanganan jangka panjang, masyarakat pesisir Ampenan perlu direlokasi.

Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana mengatakan, banjir rob merupakan siklus musiman dan biasa terjadi di bulan Agustus. Sebagian nelayan dilaporkan masih bertahan dan mencari kesempatan untuk tetap melaut. ” Hasil tangkapan tidak maksimal, tapi nelayan tetap berani turun,” katanya, Rabu, 25 Juli 2018.

Pemkot Mataram mengantisipasi jangan sampai terjadi kerusakan di garis pantai. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram mempersiapkan standar pengamanan dan sarana prasarana. “Kita memiliki SOP penanganannya,” tandasnya.

Baca juga:  Tiga Daerah di NTB Terancam Banjir Bandang

Solusi jangka panjang menurut Mohan, dengan merelokasi nelayan berada di lokasi rawan. Pemkot Mataram sedang membuat detail engineering design (DED). Wawali menegaskan, nelayan harus siap direlokasi. Jika tidak begitu akan jadi permasalahan panjang.

“Pada akhirnya lokasi pemukiman tidak jauh dari pinggir pantai,” terangnya.

Pembangunan jetty pernah dipikirkan oleh Pemkot Mataram. Anggaran cukup besar dinilai tidak memungkinkan membebani APBD. Rencana ini telah dikomunikasikan dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), agar pembangunan jetty diambilalih.

Baca juga:  Tiga Daerah di NTB Terancam Banjir Bandang

Wakil Ketua DPRD, H. Muhtar menambahkan, nelayan sebaiknya tidak memaksakan kehendak untuk melaut. Gelombang tinggi dikhawatirkan berdampak terhadap keselamatan nelayan. “Kalau memang tidak boleh melaut, jangan dipaksakan,” ujarnya.

BPBD juga diminta proaktif. Politisi Partai Gerindra mengharapkan, BPBD tidak turun ketika ada laporan saja dari masyarakat. Karena ini musiman, Pemkot harus memikirkan penanganan jangka panjang. Di antaranya, merelokasi nelayan di tempat aman. (cem)