Pemprov NTB Bantah Operasional Rumah Kemasan Macet

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB membantah operasional rumah kemasan macet atau mangkrak. Rumah kemasan  dulunya merupakan Unit Penyangga  Pemasaran (UPP) produk Sapi, Jagung dan Rumput Laut (Pijar) yang diresmikan pada 2013.

Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, H. Chairul Mahsul, SH, MM menegaskan bahwa operasional rumah kemasan tidak macet. ‘’Ada, kalau ada permintaan masyarakat. Kalau ada pesanan dari IKM. Bukan macet,’’ kata Chairul ketika dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 20 Juli 2018 siang.

Ia mengatakan, dengan mesin yang ada saat ini  rumah kemasan baru melayani satu jenis kemasan yang selama ini dimanfaatkan oleh Industri Kecil Menengah (IKM).   Untuk jenis kemasan yang lain, butuh mesin yang berbeda.

‘’Kita harus membuat banyak macam jenis kemasan, mesin-mesin kemasan model lain supaya lebih variatif. Tidak satu model, kan monoton. Untuk produk apapun kemasannya satu jenis saat ini. Karena mesinnya memproduksi satu jenis kemasan,’’ jelasnya.

Supaya mesin-mesin yang ada di rumah kemasan tetap efektif dan efisien, maka volume barang atau produk harus terjamin ketersediaannya. Selain itu, kemasan yang dihasilkan harus menarik dan banyak model kemasan.

Baca juga:  Smelter akan Dibangun dengan Kapasitas 1,3 Juta Ton Konsentrat per Tahun

‘’Tentu kewajiban rumah kemasan melengkapinya dengan  mesin yang lebih bagus dan efisien. Rumah kemasan  itu tidak memproduksi sendiri tapi atas permintaan dari IKM,’’ katanya.

Chairul menambahkan, sudah terbentuk jaringan IKM yang dapat memanfaatkan rumah kemasan tersebut. Namun, kadang-kadang harga di rumah kemasan lebih mahal dibandingkan di luar daerah.

Di samping kemasan di luar daerah yang memiliki banyak model. Sehingga banyak IKM di NTB yang lebih memilih mengemas produknya di luar daerah.

‘’Karena  mereka produksinya banyak, maka menjadi murah kalau di luar daerah,’’ terangnya.

Mantan Kepala Bappeda NTB ini mengatakan, komitmen Pemprov mengenai industralisasi produk unggulan daerah sudah ada sejak 2013 – 2018. Untuk kesinambungan keberadaan rumah kemasan yang ada, Dinas Perindustrian (Disperin) perlu membuka jaringan dengan produsen bahan baku kemasan. Sehingga biaya di rumah kemasan bisa menjadi lebih murah. Sehingga IKM akan memanfaatkan rumah kemasan tersebut untuk mengemas produk-produknya.

UPP Pijar merupakan  tempat pemasaran produk olahan Pijar yang  dihasilkan oleh para Usaha Mikro Kecil  Menengah (UMKM) yang telah dilatih dan dibina oleh Dinas Koperasi dan UMKM NTB.

Baca juga:  Tinjau Irigasi Tetes di KLU, Gubernur Tegaskan Langkah Awal Industrialisasi di NTB

UPP tersebut berfungsi sebagai tempat  pengemasan dan pengepakan hasil olahan produk Pijar yang selanjutnya dikirim ke outlet-outlet toko  modern yang ada di Bali dan Nusa Tenggara. Selain itu, hasil olahan produk Pijar juga menyasar pasar retail (toko modern) di Pulau Jawa dan Jabodetabek.

Pada awal berdirinya, sebanyak 730 UMKM di NTB sudah dilatih mengolah produk Pijar  di Pusat pelatihan Industri Olahan Produk Unggulan di Malindo Sulawesi Tenggara. Para UMKM yang telah dilatih tersebut selanjutnya diminta  terus berproduksi dan dapat menularkan ilmu yang pernah didapat kepada 10-20 orang.

Untuk pengemasan dan pengepakan produk olahan Pijar  yang dihasilkan oleh Industri Kecil Menangah (IKM) di NTB tersebut, pada tahun 2013  diadakan mesin finishing senilai Rp 1,5 miliar dengan kapasitas 3 ton bahan baku perhari. Artinya dibutuhkan ratusan IKM yang menghasilkan bahan olahan Pijar dalam bentuk setengah jadi yang selanjutnya diolah finishingnya  di UPP Produk Olahan Pijar NTB. (nas)