Penurunan Kemiskinan di Mataram Melambat

Mataram (Suara NTB) – Penurunan angka kemiskinan di Kota Mataram, melambat. Di tahun 2017 hanya mampu mengurangi 0,65 persen. Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Baiq Asnayati mengakui hal itu disebabkan oleh program yang bersifat konsumtif.

“Kesulitannya adalah bantuan kita berikan selama ini sifatnya konsumtif,” kata Asna pekan kemarin. Statistik penurunan angka kemiskinan sejak 2011 – 2016. Di tahun 2011 jumlah penduduk miskin 53.736 jiwa atau 13,81 persen. Mengalami penurunan di 2012 menjadi 11,87 persen atau 49.633 jiwa. Selanjutnya, di 2013 berkurang jadi 46.674 jiwa atau 10,75 persen. Tahun 2014 sebanyak 46.673 jiwa atau 10,53 persen. Pada posisi 2015, penduduk miskin di Mataram 46.670 jiwa atau 10,45 persen. Dan, di 2016, penduduk miskin 9,80 persen atau 44.810 jiwa.

Baca juga:  NTB Terbitkan Kartu Identitas Anak Yatim Piatu

Faktor lain lanjut Asna, tidak hanya daya beli, kesehatan menyangkut angka kematian ibu melahirkan dan pendidikan juga jadi penyebab. Beban penduduk miskin tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke Dinas Sosial, tapi jadi pekerjaan bersama lintas sektor dan stakeholder lainnya.

Kementerian Sosial memiliki basis data terpadu. Ini sebagai upaya keterpaduan sasaran ke masyarakat. “Bazda sekarang pemberian bantuannya berkiblat ke basis data terpadu,” ujarnya. Asna menyatakan, intervensi program diberikan pemerintah tidak bisa praktis begitu saja mengurangi angka kemiskinan. Efeknya bisa dirasakan tahun berikutnya.

Baca juga:  Kemiskinan di Kota Mataram Meningkat

Pemkot Mataram tengah berjuang pada seluruh program ada keterpaduan sasaran menyentuh masyarakat miskin. “Itu pun perlu berproses,” tandasnya.

Disos berupaya menekankan angka kemiskinan dengan menghilangkan program bersifat konsumtif. Intervensi lebih diarahkan pada peningkatan modal usaha serta membuka wirausaha baru. Di satu sisi, perlu juga memperbaiki mental masyarakat, agar memacu diri keluar dari jerat kemiskinan.

Terhadap target penurunan angka kemiskinan tahun 2021, Asna belum berani memberikan keyakinan. Pihaknya berupaya target berdasarkan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) turun sampai 5,5 persen. “Saya belum berani berkeyakinan. Yang penting kita ikhtiarkan dulu,” jawabnya. (cem)