Sejumlah Hotel di Mataram Diduga Sediakan PSK untuk Tamu

Mataram (Suara NTB) – Kasus prostitusi di Mataram terus terkuak. Hasil investigasi dilakukan oleh Satpol PP, tidak saja hotel melati, disinyalir pengelola hotel bintangpun menyiapkan pekerja seks komersil (PSK) bagi tamu mereka. Sebagian praktik haram itu dilakukan secara terang – terangan.

Kasat Pol PP Kota Mataram, Bayu Pancapati, Rabu, 18 April 2018 mengatakan, pengelola hotel menyiapkan ruang khusus. Tamu yang butuh perempuan tinggal memesan saja. Penindakan terhadap pelanggaran Perda dan norma sosial di hotel berbintang menurutnya tidak bisa dilakukan. Penertiban itu dianggap membuat kegaduhan di tengah upaya pengelola hotel mempromosikan pariwisata.

Tameng – tameng seperti ini dianggap cara pengelola hotel untuk melegalkan praktik haram tersebut. Bayu meminta Pemkot Mataram membuatkan regulasi khusus memberikan kewenangan Pol PP masuk ke hotel bintang. “Kita tindak, ada saja alasan. Mereka bilang Pol PP ini bikin sepi pariwisata saja,” kata Bayu.

Fakta bahwa manajemen hotel menyiapkan pekerja seks bukan rahasia umum lagi. Ini mencoreng dan merusak visi misi Kota Mataram. Keterbatasan kewenangan penertiban hotel bintang membuat aparat penegak Perda ini dilema. Di satu sisi, ketika menertibkan pelanggaran dicaci, tidak bekerja pun dimaki.

Baca juga:  Penusukan di Hotel, Pelaku Diduga Kehabisan Uang Kencani Wanita

Ditegaskan Bayu, penindakan pelanggaran hukum tidak ada istilah pilih kasih. “Yang bisa dilakukan memberikan imbauan kepada manajemen hotel. Ini disayangkan manajemen hotel terlalu menggampangkan Pol PP,” sesalnya.

Bayu tidak detail mengungkapkan hasil investigasinya terhadap prostitusi di hotel bintang di Mataram. Baik tarif, modus, siapa yang bermain serta proses transaksinya. Dia hanya menyebut lengkap satu hotel bintang di wilayah Cakranegara menonjol menyiapkan perempuan.

Secara struktur jaringan prostitusi ada yang dikendalikan oleh orang luar. Artinya, ada mucikari yang memasok ke hotel. Jaringan ini tidak terlepas dari keterlibatan manajemen hotel.

“Mereka tahu tapi pura – pura tidak tahu saja. Saya sendiri menyelami ke sana. Kalau sudah diungkap, mereka ramai – ramai berkelit,” akunya.

Dari hasil investigasinya, apakah dengan menyediakan perempuan sebagai strategi pengelola hotel menutupi biaya operasional mereka? Persisnya mengenai hal itu aku Bayu, tidak diketahui. Yang jelas, manajemen hotel menyiapkan perempuan – perempuan bisa dipakai oleh tamu.

Baca juga:  Penusukan di Hotel, Pelaku Diduga Kehabisan Uang Kencani Wanita

Perilaku pengelola hotel tak fair terhadap aturan dan nilai sosial masyarakat mencerminkan citra buruk bagi hotel dan daerah. Mereka seharusnya lebih mengedepankan promosi kuliner dan keunggulan lainnya. Penutupan hotel Alexis di Jakarta dinilai sebagai contoh sekaligus pembelajaran. Di mata masyarakat hotel itu terkenal menyiapkan perempuan. Hal ini yang tidak diinginkan Pemkot Mataram.

Bukti – bukti sudah ada. Lalu langkah selanjutnya pemerintah berani mengambil sikap tegas dengan menutup hotel tersebut? Pol PP tegas Bayu, berani menutup hotel mana saja dinilai melanggar. Tapi tergantung kebijakan kepala daerah. Pimpinan pasti memiliki pertimbangan – pertimbangan serta alat bukti kuat mengambil sikap tegas.

Ketua Asosiasi Hotel Mataram yang juga GM Hotel Golden Palace, Ernanda mempersilakan persoalan tersebut ditindaklanjuti sesuai proses hukum yang berlaku. “Kalau ada temuan seperti itu, silakan ditindaklanjuti sesuai proses hukum,” jawabnya. (cem)