Kelompok Nelayan di KLU Konflik Gara-gara Ikan Tongkol

Tanjung (Suara NTB) – Kelompok nelayan di wilayah Kecamatan Gangga dan Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara (KLU)  sempat berkonflik. Lantarannya kelompok nelayan Dusun Kerakas, Desa Persiapan Segara Katon, Kecamatan Gangga, menangkap ikan tongkol di wilayah perairan laut Kecamatan Tanjung. Merasa tak terima, kelompok nelayan Kecamatan Tanjung seperti dari Penyambuan, Sorong Jukung, dan Jenggala melancarkan protes.

Konflik antarkelompok nelayan lantas didamaikan oleh pihak Dinas Perhubungan Kelautan dan Perikanan, Selasa, 2 Januari 2018. Hadir pada mediasi itu Kadishub KLU, Danramil Gangga, Kapolsek Gangga, Kades Gondang, Kades Tanjung dan Kades Jenggala.

Pada pertemuan di Ruang rapat Kadishub itu, belasan nelayan Dusun Kerakas tampak hadir. Demikian juga belasan nelayan dari Kecamatan Tanjung. Sumardi, nelayan asal Dusun Kerakas menolak anggapan nelayan Tanjung bahwa wilayah perairan Tanjung milik mereka yang berdomisili di Tanjung.

Hal itu lantas diamini nelayan lain Dusun Kerakas. Menurut nelayan, kedatangan ikan tongkol yang bersifat musiman membuat nelayan harus menyesuaikan cara menangkap tongkol. Tidak menjadi patokan bahwa tongkol di wilayah perairan Tanjung merupakan milik nelayan Tanjung.

“Mereka menangkap hanya mengandalkan pancing, sedangkan kami menggunakan jaring (sret). Dengan biaya sampai 50 ribu sekali jalan belum tentu kami mendapatkan ikan,” kata nelayan Kerakas.

Persoalannya kemudian menjurus pada klaim perairan laut. Beberapa nelayan Tanjung menginginkan agar nelayan asal Kecamatan Gangga tidak menangkap di wilayah Tanjung. Namun klaim tersebut langsung mental. Danramil Gangga dan Polsek Gangga meminta agar para kelompok nelayan tidak saling klaim perairan apalagi membatasi ruang gerak. Andaipun tidak dibatasi, maka nelayan Kerakas akan dikenakan sanksi apabila menangkap di perairan Tanjung, demikian sebaliknya.

“Kalau ini dibatasi, khawatirnya akan terjadi aksi saling lapor di kemudian hari,” kata Danramil Gangga, Kapten Inf. Yuni Priharyono.

“Butuh saling pengertian satu sama lain, saya tidak ingin ada sok-sokan. Kita butuh sikap sebagai manusia bahwa kepentingan kita adalah sama,” sambung Kapolsek Gangga, AKP Cahyo WBA.

Atas penjelasan Danramil dan Polsek Gangga itu, kelompok nelayan pun melunak. Mereka pun tidak saling melarang antar kelompok di KLU. Sebaliknya, para kelompok nelayan justru bersepakat bahwa kelompok nelayan yang dilarang masuk wilayah perairan KLU adalah nelayan asal luar daerah (kabupaten/provinsi).

Kesepakatan yang diambil pada mediasi itu, akan dibuatkan dalam berita acara. Kades Gondang, Ahmad Jauhari, selanjutnya meminta agar Dinas Perhubungan Kelautan dan Perikanan menghubungi seluruh kelompok nelayan KLU untuk diberikan pemahaman agar tidak terjadi saling klaim. (ari)