PKL : Eks Pelabuhan Ampenan Semakin “Ore”

0
90

Mataram (Suara NTB) – Pedagang di eks Pelabuhan Ampenan mengeluhkan penataan oleh pemerintah. Material serta pembongkaran trotoar menimbulkan kesan berbeda bagi pengunjung karena terlihat semrawut.

Aton, seorang pedagang di eks Pelabuhan Ampenan mengeluhkan kondisi lapak pasca relokasi. Timbunan material serta bongkahan bangunan menyisakan suasana semrawut. Pengunjung sungkan berkunjung, apalagi berbelanja.

“Semakin ore (semrawut) sekarang. Coba lihat material sana – sini,” keluhnya, Rabu, 15 Desember 2017.

Aton yang mengaku mencari nafkah di eks Pelabuhan Ampenan sejak tahun 2012 menuturkan, dua pekan ini, penghasilannya menurun. Sebab, tak ada pengunjung mau berbelanja. Di samping itu, pedagang lainnya memilih menaruh dagangan persis pinggir pantai. Dengan maksud lebih mudah laku daripada menaruh dagangan di belakang.

Ia heran dengan kebijakan pemerintah. Trotoar dikerjakan setahun lalu dibongkar begitu saja. “Ini belum setahun sudah dibongkar,” katanya sambil menunjuk galian yang telah terpasang besi.

Katanya, lapak dibangun tahun ini sebanyak 35 unit. Ia meminta agar memprioritaskan pedagang lama, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan. “Kalau ada yang tidak dapat, ribut kita,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana menjelaskan, penataan eks Pelabuhan Ampenan, ada informasi keliru diterima oleh masyarakat pada saat sosialisasi awal. Kekeliruan itu berkaitan dengan konstruksi lapak berbeda dengan konsep dikerjakan sekarang.

Terutama para PKL di Ampenan tidak tahu kalau ada perubahan desain disesuaikan kondisi anggaran. Sebab, penataan disesuaikan dengan dukungan anggaran dari Pemprov NTB. “Bentuknya ada perubahan. Kami berusaha membangun lapak supaya tertata rapi,” kata Mohan.

Konsep lapak ini nantinya ada keseragaman, sehingga pedagang tidak ada saling berebut lokasi atau posisi. Pemerintah akan membuat kebermanfaatan semua. Artinya, di mana saja posisi tidak mempengaruhi pendapatan.

  VIDEO - Mayat Bayi Ditemukan Hanyut di Sungai Ancar

Mohan menambahkan, lebih teknisnya adalah pedagang yang mengantarkan makanan. Tidak seperti saat ini, pedagang terkesan semau – maunya.

“Sudah tempatnya sempit, lagi ditaruh meja dan kursi,” katanya. Wawali mengaku, proses pembangunan sempat ada gangguan dari masyarakat. Tetapi, itu berjalan hanya seminggu. Setelah itu, proses pengerjaan diserahkan ke rekanan. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here