Kodim Lotim Antisipasi PKI Gaya Baru

Advertisement

Selong (Suara NTB) – FILM dokumentar Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30-S/PKI) kembali ditayangkan. Penayangan film ini menggunakan sejumlah media, termasuk melibatkan media televisi lokal.

“Ini sesuai dengan instruksi Panglima TNI,” ungkap Komandan Distrik Militer (Kodim) 1615/Lombok Timur (Lotim), Letkol Inf. Agus Setiandar, SIP di Markas Kodim Lotim, Jumat, 22 September 2017.

Menurutnya, pemutaran film sebagai bagian dari langkah antisipasi kemunculan PKI gaya baru.  Tujuan pemutaran untuk mengingatkan kembali bangsa Indonesia pernah mengalami sejarah kelam. “Ini merupakan sejarah kelam yang pernah dialami bangsa ini,” tegasnya.

PKI sifatnya adalah laten. Bisa timbul satu masa dan tenggelam di masa lain dan jelas  tidak menguntungkan. Bisa timbul lagi ketika situasi memungkinkan. Lotim sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia turut melihat perkembangkan komunis.

PKI mulai berani muncul setelah puluhan tahun. Hal ini terbaca sejak 2015 dan terlihat dari banyak atribut palu arit dengan berbagai media. ‘’Gunakan elektronik, melalui pesan produk. Ada juga melalui pakaian yang dipakai pemuda baik secara gratis maupun dijual bebas di seluruh pelosok. Ada juga PIN yang sudah marak,’’ ujarnya.

Tahun 2016 ada simposium yang melahirkan beberapa tuntutan dari kelompok komunis ini menuntut pemerintah minta maaf, merehablitasi dan rekonslilasi. Menuntut ganti rugi atas penderitaan yang dalam pandangan mereka dialami sejak 1965. PKI merasa menjadi korban, padahal mereka yang berbuat melakukan pemberontakan.

Kodim 1615 Lotim turut mengantisipasi perkembangan komunis dengan kemasan gaya baru. Dalam hal ini, pihaknya akan coba sisir setiap pelosok. Setiap gerak gerik dan tindak tanduk yang mengarah kepada komunis dilacak.

Film G30-S/PKI dikethui pernah tiap tahun setiap tanggal 30 September ditayang di TV Nasional. Setelah reformasi 1998, film ini tidak diperbolehkan lagi tayang, sehingga generasi muda kelahiran tahun 90-an, dinilai banyak yang tidak pernah menonton.

Selain itu, di sekolah tidak ada pembelajaran P4. Kondisi ini dikhawatirkan akan membahayakan. Anak yang lahir tahun 90 tidak mengerti bahaya laten komunis ditakutkan justru gandrung menggunakan atribut komunis.  Pemutaran perdana sudah dilakukan secara sporadis di Koramil sejak tanggal 20 September. Tiap hari sampai dengan tanggal 30 September mendatang, pemutaran film rencana akan digelar sedikitnya di 11 lokasi di Lotim.  (rus)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.