Iklan Rokok Marak, Mataram Masih Dilema Jadi Kota Layak Anak

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Mataram mengaku dilema masih maraknya iklan rokok di sejumlah sudut dan pinggir jalan di Kota Mataram. Pasalnya, Pemkot Mataram tengah berjuang mendapatkan penilaian Madya sebagai Kota Layak Anak 2018.

“Jujur, saya posisi dilema kalau soal itu,” kata Kepala DP3A Kota Mataram, Dra.Hj. Dewi Mardiana Ariany ditemui pekan kemarin.

Dewi mengaku telah ada penandatanganan komitmen kepala daerah untuk memerangi iklan rokok. Artinya, tidak boleh lagi terpasang iklan rokok luar ruang di Mataram. Ia pernah berkoordinasi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Sat. Pol PP, dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Koordinasi itu dimaksudkan agar tidak lagi memberikan izin ke perusahaan maupun advertising jika konten berbau iklan rokok di luar ruang. “Kita minta ditertibkan yang sudah selesai izinnya itu,” kata dia.

DPMPTSP aku Dewi, iklan tak habis masa izinnya tak lagi diperpanjang. Kecuali, izin masih berlaku tidak bisa diambil tindakan, karena kemungkinan besar pemilik iklan mengajukan gugatan ke pengadilan.

Lebih jauh disampaikan, iklan rokok itu jelas berdampak besar terhadap penilaian Kota Layak Anak. Disamping itu, pengaruhnya anak – anak cepat terkontaminasi untuk mencoba. Belum lagi aspek kesehatan mengganggu masyarakat yang terpapar asap rokok.

“Jelas berdampak di indikator,” jawabnya.

Iklan rokok di warung – warung tidak memiliki izin diminta ditertibkan oleh Sat. Pol PP. Itu kata mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (sekarang, BKPSDM) tidak berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah juga berpengaruh ke remaja. Namun demikian, Dewi tetap bekerja keras agar 2018 penilaian Kota Layak Anak Kota Mataram bisa mendapatkan kategori Madya.

Pantauan Suara NTB, iklan rokok terpasang di sejumlah sudut di Kota Mataram. Seperti di Jalan Airlangga depan Taman Budaya NTB, Jalan Sriwijaya, dan titik lainnya. (cem)