Pakai Sarung dan Sandal, Ratusan Warga Terisolir Bun Beleng Pertama Kali Rayakan HUT RI

Giri Menang (Suara NTB) – Semarak perayaan HUT RI ke 72 tahun ikut dirayakan ribuan warga dusun terisolir Bun Beleng, Tibu Lilin dan Gerebekan Kecamatan Lembar. Mereka apel bendera di MI Al-Mujahidin NW yang berlokasi di atas bukit dengan penuh antusias dan khidmat meskipun kondisi terbatas menggunakan sarung serta sandal.

Tampak kegembiraan di wajah warga setempat, karena baru pertama kali bisa merayakan HUT RI setelah 72 tahun kemerdekaan negara ini.

Ratusan warga mengenakan sarung, sandal dan topi kere (kecapil) berkumpul di halaman sekolah sejak pagi. MI ini merupakan satu-satunya sekolah bagi anak terpencil setempat. Ratusan warga berbaur bersama anak-anak murid MI ikut menjadi peserta apel bendera. Petugas Bhabinkamtibmas, Bripka Made Surye, Babinsa Serka Arsiah, para kadus, tokoh masyarakat, pihak rumah cerdas dan wartawan serta Klub Paralayang Mandalika ikut menjadi peserta apel.

Apel bendera yang diadakan warga terisolir ini tidak seperti apel-apel di Kota. Apel yang diadakan warga terisolir ini tanpa pengeras suara. Biasanya para peserta apel di Pemda mengenakan pakaian dinas lengkap dengan dasi dan sepatu, namun warga hanya mengenakan sarung dan kecapil, bahkan tidak menggunakan sandal. Kondisi ini menggambarkan keterbelakangan yang dialami warga setempat. Namun kondisi ini tak menyurutkan semangat mereka, mengikuti apel yang dipimpin anak murid MI bernama Sopian Hadi.

Baca juga:  Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-74, Momentum Bangkit Menuju NTB Gemilang

Kejadian lucu terjadi ketika warga dikomando untuk merapikan barisan. Sebagian warga yang tak memahami baris berbaris pun tampak bingung. Warga yang menonton pun menyoraki, meskipun demikian tak mengurangi kekhidmatan jalannya apel upacara. Keharuan terasa ketika upacara pengibaran bendera, karena sebagian warga menangis terharu mendengar lantunan lagu Indonesia Raya. Kendati warga tidak bisa menyanyikan lagi kebangsaan ini, namun mereka tertegun dan diam mendengarkan penuh menghayati.

Mustamin selaku pembina upacara dalam amanatnya menyatakan bahwa perayaan HUT kali ini pertama kali dirayakan bersama mayarakat. “Patut kita syukuri berkat peran serta Rumah Cerdas dan wartawan Lobar kita bisa merayakan HUT RI bersama-sama,”ujarnya.

Baca juga:  Merawat Nasionalisme di Rinjani

Usai upacara bendera, warga berkumpul diata bukit meenyakikan atraksi paralayang dari Klub Mandalika Paralayang. Mereka bersorak-sorai ketika menyaksikan bendera raksasa berkibar di atas udara dibawa oleh tim paralayang.

Kepala Dusun Bunbeleng Mustain menyatakan warga setempat sangat berbangga karena bisa merayakan apel pertama kali ini di atas bukit. Warga katanya menunggu-nunggu momen ini karena pertama kali mereka merayakan HUT kemerdekaan.

Sementara itu, Ketua Sanggar Belajar Rumah Cerdas Evi Febriana, menyatakan pihaknya memfasilitasi kegiatan apel ini ingin mengajak selurruh masyarakat untuk menumbuhkan semangat juang secara bersama-sama untuk meraih “Kemerdekaan” dari keterbatasan.

“Selain itu menumbuhkan rasa persaudaraan diantara masyarakat untuk kemajuan mereka atau hidup dengan sama rasa,sama rata, sama ratap dan sama tangis,”imbuhnya. (her)