Berjarak Ratusan Meter dari Kantor Bupati, Warga Dasan Geres Seberangi Kali dengan Jembatan Bambu

Giri Menang (Suara NTB) – Warga Dasan Geres Timur Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung yang tinggal tak jauh dari kantor Bupati Lombok Barat (Lobar) terpaksa menyeberangi Kali Dendeng menggunakan jembatan darurat yang terbuat dari bambu. Kondisi ini dialami warga sejak 2003 lalu, lantaran tak ada jembatan permanen. Jembatan bambu ini sendiri dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Warga sangat berharap agar pemda segera membangunkan jembatan permanen untuk mempermudah akses masyarakat setempat. Kepala Lingkungan Dasan Geres Timur, M. Saleh menyatakan jembatan penghubung ini dibangun swadaya sejak 2003 lalu. Awalnya, jembatan dibangun menggunakan beton, namun ambruk sejak 2012-2013.

“Karena sering gonta-ganti bangunan jembatan menggunakan bambu akhirnya kami ganti pakai beton, itupun roboh akibat insiden ketika masyarakat membawa jenazah melewati jembatan ini,’’ tuturnya.

Baca juga:  Pusat Setujui KPBU SPAM Regional Pulau Lombok Senilai Rp5 Triliun

Beberapa tahun lalu, terjadi insiden terjatuhnya jenazah saat dibawa melalui jembatan tersebut. Akibatnya mayat pun jatuh ke kali, termasuk dengan warga yang menggotong jenazah mengalami luka, bahkan ada yang patah tulang. Semenjak saat itulah, warga kembali membuat jembatan darurat dari bambu. Jembatan bambu yang dibangun pun kembali hanyut, sehingga kembali dibangun secara swadaya.

Warga jelasnya sudah mengusulkan pembangunan jembatan ini ke Bupati H Fazuan Khalid beberapa waktu lalu, bupati pun merespon baik dan menunggu proses penganggaran. Jembatan ini satu-satunya akses yang dipakai warga setempat untuk ke pasar, dan ke sawah. Anak-anak sekolah pun melalui jembatan ini setiap hari, anak-anak sekolah di SD 4 Dasan Geres berlokasi di seberang kali dengan jarak 500 meter dari pemukiman. “Aktivitas mau ke pasar, ke sawah warga lewat jembatan ini karena dekat,’’ ujarnya.

Baca juga:  Jembatan Darurat Putus, PUPR NTB Bergerak Cepat

Menurutnya tidak ada akses jalan lain yang dekat,  sehingga ketika jembatan ini putus warga terpaksa memutar awah melalui jalur Penas atau lewat Dusun Pande dengan jarak tempuh 1,5 kilometer.

Kondisi ini, jelasnya, membuat sangat berharap jembatan ini dibangun permanen sebab ketika hujan datang warga sudah was-was jembatan ini putus. Pihaknya sudah mengusulkan ke lurah setempat agar sering-sering mengusulkan ke Dinas PU, bahkan pihak Dinas PU sudah turun memeriksa jembatan ini namun tidak tahu prosesnya kapan terealisasi. Warga, jelasnya, mau diberikan bantuan stimulan dan warga bersedia bergotong-royong. “Yang penting masyarakat dapat,” ujarnya.  (her)