KLU “Darurat” Nikah Usia Dini

Tanjung (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Utara (KLU) sepertinya harus segera membentuk Perda yang mengatur usia minimal pernikahan. Pasalnya, pernikahan di usia dini tergolong cukup marak. Tahun 2016 lalu, tercatat angka usia dini mencapai 2.026 kejadian di 5 kecamatan.

“Perda Nikah Dini sangat kita perlukan, tetapi sementara membuat perda kita dorong desa-desa membuat aturan melalui awik-awik masyarakat adat desa,” kata Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Hadari, SP., melalui Kasi PPPA, Hasrurrahman, Senin, 7 Agustus 2017.

Spesifik pada angka per kecamatan, Kecamatan Bayan mengantongi jumlah tertinggi kejadian pernikahan anak usia sekolah yaitu sebanyak 1.021 kejadian. Menyusul Kecamatan Kayangan dengan 480 kejadian di, Tanjung dengan 281 kejadian. Terendah ada di Kecamatan Pemenang sebanyak 117 kejadian dan Kecamatan Gangga dengan 127 kejadian.

Baca juga:  DPMPD Dukcapil NTB Targetkan Peningkatan Kerjasama Pemanfaatan Data Kependudukan

Mereka yang tercatat menikah di usia dini adalah kalangan pelajar dengan usia 18 tahun ke bawah. Mengenai penyebabnya, Hasrurrahman mencatat cukup beragam dari pergaulan bebas, hamil di luar nikah, minimnya perhatian orang tua serta dipengaruhi oleh perubahan lingkungan dan pengaruh perkembangan teknologi informasi.

Dalam hal mengurangi kejadian menurut penyebabnya itu, Hasrurrahman mengatakan pentingnya peran serta masyarakat desa. Khusus di Kecamatan Bayan dengan kasus tertinggi, terdapat 5 desa yang sudah membentuk awik-awik desa yaitu Desa Sambik Elen, Desa Loloan, Desa Anyar, Desa Bayan dan Desa Sukadana. Desa lainnya seperti Akar-Akar, Senaru dan Mumbul Sari tengah dalam proses pembuatan awik-awik.

Masalah sosial pada anak tidak hanya terkait pernikahan dini, tetapi Disos juga mencatat ada kasus Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH). Tajun 2016 lalu, jumlah ABH sebanyak akibat perkelahian 13 kasus (7 di Gangga, 5 di Pemenang dan 1 di Tanjung). Kasus pencurian di mana anak sebagai pelaku sebanyak 2 kasus, terjadi masing-masing di Bayan dan Pemenang. Sedangkan anak yang terlibat narkoba 1 kasus terjadi di Pemenang. “Pada katagori anak sebagai korban pelecehan seksual, total 2016 ada 8 kasus, terbanyak di Kecamatan Gangga,” katanya.

Baca juga:  Revisi UU Perkawinan Disahkan, NTB Optimis Tekan Pernikahan Dini

Pihaknya berharap, dukungan masyarakat dan juga sekolah lebih dikuatkan dalam mengendalikan jumlah kasus sosial yang melibatkan anak baik sebagai pelaku maupun korban. Pihak dinas sendiri akan terus berupaya memberikan penyuluhan kepada kelompok masyarakat secara berkala agar bisa menurunkan kasus sosial anak tersebut. (ari)