Perajin Gerabah Banyumulek Didominasi Janda

Lobar (Suara NTB) – Kerajinan gerabah Banyumulek Kecamatan Kediri mengalami mati suri, lantaran tidak banyak pengunjung yang datang membeli gerabah tersebut. Dibandingkan tahun 1998 ke bawah, gerabah Banyumulek begitu terkenal hingga ke luar negeri.

Namun kini Banyumulek sepi, bahkan nyaris mati. Imbasnya pun banyak galeri seni yang gulung tikar. Para perajin pun banyak yang memilih berhenti dan memilih usaha lain.

Di antara sekian banyak perajin gerabah ini yang masih bertahan adalah para janda. Bahkan perajin gerabah di Banyumulek ini didominasi oleh para janda. Mereka bertahan, karena tak ada piihan lain untuk mata pencaharian. Salah satu perajin yang bertahan adalah Hj. Haerunnisa.

Janda delapan anak ini mengaku telah lama ditinggal suaminya. Ia pun bertahan meneruskan usaha suaminya menggeluti kerajinan gerabah.

‘’Banyak perajin yang janda, janda ditinggal suami akibat meninggal dan ditinggal ke Malaysia,”akunya pada Suara NTB, Kamis, 27 Juli 2017.

Dirinya membuka galeri seni dengan mempekerjakan para wanita yang didominasi janda. Diakuinya, para perajin tidak diberikan gaji per bulan, namun mengupahnya per satu gerabah senilai Rp 25 ribu. Itupun gerabah yang dibuat berukuran kecil, seperti pot, asbak dan lain-lain.

Baca juga:  Ekspor Tuna NTB Meningkat Tajam

Diakui perajin yang bekerja di galeri seninya mencapai 8-9 orang, mereka ini kebanyakan wanita yang ditinggal suaminya pergi ke Malaysia. Dibandingkan dulu masa keemasan gerabah, karena terkenal tidak saja di nasional namun hingga luar negeri.

Bahkan saat itu, ia kewalahan melayani pembeli. Namun kini kondisi berubah 180 derajat, perajin banyak yang berhenti. Mereka lebih memilih bekerja menjadi buruh karena lebih pasti hasilnya, dibandingkan menjadi perajin yang tidak jelas hasilnya.

“Perajin lebih baik menjadi buruh, karena hasilnya cepat diperoleh, kalau perajin ini kan belum tentu,” akunya.

Selain itu, ujarnya, galeri seni yang dulunya menjamur di daerah itu kini hampir semua gulung tikar. Jumlah galeri seni yang ada saat ini pun hanya bisa dihitung dengan jari. Dirinya bertahan, karena tak ada pilihan lain. Ia pun terpaksa membuka toko jual makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, “Saya buka toko jual makanan ringan, rokok dan sembako,’’ jelasnya.

Baca juga:  Niken Zulkieflimansyah Raih Penghargaan Pembina Dekranasda Terbaik Nasional

Diakui, selama ia menggeluti usaha gerabahnya puluhan tahun ia tidak pernah diberikan pembinaan oleh pemerintah. Bahkan program pelatihan tidak pernah diperoleh. Sehingga ia pun bertahan dengan kondisi apa adanya.

Ia mengaku sebatas menunggu pengunjung yang datang. Sejauh ini pengunjung yang datang tidak ada, pengunjung hanya sebatas warga lokal yang membeli pot dan asbak. Dalam sehari ia pun terkadang tidak memperoleh hasil jual karena pengunjung sepi.

Kepala Desa Banyumulek Masnun Haris mengakui kebanyakan perajin gerabah di wilayahnya para janda. Jumlahnya mencapai ratusan, mereka ini jelasnya tidak memperoleh program pemberdayaan dari pemerintah. “Jumlah janda yang jadi perajin itu ratusan orang,’’ akunya.

Sejauh ini pihak desa juga belum menyentuh mereka dari sisi program, sebab diakuinya pihak desa belum memiliki data ril. Ia juga mengaku khawatir jika menganggarkan untuk pemberdayaan terjadi kesenjangan satu sama lain. (her)