Harian Suara NTB Kembali Luncurkan Dua Buku Sastra

0
67

Mataram (Suara NTB) – Suara NTB kembali meluncurkan dua buku sastra yang merupakan sehimpunan cerpen dan puisi pilihan yang pernah dimuat di rubrik Jendela Sastra sepanjang 2014-2015. Dua buku kumpulan cerpen dan puisi berjudul Mata yang Gelap dan Ironi Bagi Para Perenang tersebut diluncurkan di Taman Budaya NTB, Kamis, 25 Mei 2017.

Kegiatan tersebut dihadiri Penanggung Jawab Harian Suara NTB, H. Agus Talino, Kepala Taman Budaya NTB, Drs. Faisal, Budayawan H. Ahmad JD, dan puluhan penulis yang karyanya termuat dalam dua buku tersebut, serta para pegiat komunitas sastra.

Dalam sambutan singkatnya, Kepala Taman Budaya NTB, Drs. Faisal menyampaikan karya sastra merupakan bentuk dari hasil perenungan yang paling mendasar dan mendalam dari para penulis. Ia pun mengapresiasi karya-karya yang dihasilkan para penulis yang termuat dalam dua buku tersebut. Mantan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata NTB ini juga mengajak agar budaya tulis menulis ini terus dilanjutkan.

Sementara itu, Penanggung Jawab Harian Suara NTB, H. Agus Talino menyampaikan tujuan awal dibukanya rubrik Jendela Sastra pada 2013 lalu untuk mendorong para peminat sastra di NTB terus giat menulis. Ia mengutip Pramoedya Ananta Toer yang menyatakan bahwa menulis merupakan kerja untuk keabadian.

“Suara NTB membuka rubrik sastra salah satu pertimbangannya mendorong kita semua, paling tidak peminat sastra di NTB ini untuk melakukan kerja-kerja keabadian, menulis,” jelasnya.

“Jadi Alhamdulillah sepanjang empat tahun ini, sepanjang perjalanan empat tahun, masyarakat terutama peminat sastra yang mengirim tulisannya ke Suara NTB, saya tidak katakan sudah banyak tapi lumayanlah,” sambungnya.

Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada semua pihak yang telah mendukung lahirnya rubrik Jendela Sastra sampai terbitnya dua buku sastra tersebut, khususnya kepada Komunitas Akarpohon yang digawangi Kiki Sulistyo dan rekan-rekannya, “Alhamdulillah teman-teman mas Kiki sudah banyak membantu Suara NTB,” jelasnya.

Dua pembicara dalam peluncuran buku tersebut, Mohammad Azhar dan Kiki Sulistyo mengupas dua hal yang berbeda. Mohammad Azhar atau Aan memaparkan pentingnya sebuah buku di zaman yang tengah mengalami banjir informasi ini.

Sementara itu, sastrawan Kiki Sulistyo mengulas kembali ihwal dibukanya rubrik Jendela Sastra yang didorong oleh para pegiat sastra di pulau ini. Saat pertama kali hadir pada 2013, 99 persen karya yang dimuat berasal dari penulis Pulau Lombok. Kiki mengatakan setelah melalui diskusi, muncul inisiatif untuk membuka kesempatan bagi penulis dari luar NTB. Dua buku pertama yang diterbitkan yaitu Melawan Kucing-Kucing, hanya satu karya yang berasal dari penulis luar NTB dan dalam buku Kembang Mata, hampir semua penulisnya berasal dari Pulau Lombok.

“Selain memperhatikan kualitas dengan penyaringan, kita membuka ruang bagi penulis dari luar sebagai standar kualitas. Perlu ada komparasi dari penulis luar seperti yang ada di (buku) puisi ini, ada penulis dari Aceh, Kupang, Riau, Padang. Dengan begitu kualitas karya yang dikirim dari lokal tidak kalah dan bisa disamakan dengan karya dari luar,” paparnya.

Hal itu juga disebutnya sebagai politik sastra, bagaimana agar perhatian terhadap perkembangan sastra di Indonesia timur mendapatkan perhatian yang lebih besar. Setelah membuka ruang bagi penulis luar, jumlah pengirim makin banyak. Perkembangan sastra di daerah ini semakin tersiar ke luar. Bahkan saat ini para penulis yang mengirimkan karyanya ke Suara NTB ialah mereka yang kerap mendapatkan penghargaan dan dan karya-karyanya sering dimuat di koran-koran nasional.

Mereka yang mengirimkan karyanya ke koran lokal seperti Suara NTB menurutnya tak hanya berpikir soal apakah itu media besar atau bukan, melainkan melihat kualitas media tersebut. “Kualitas media itu yang jadi salah satu pertimbangan bagi mereka untuk mengirim karya,” sebutnya. (ynt)