Diduga Ajarkan Aliran Sesat, IRT Diamankan

Praya (Suara NTB) – Seorang ibu rumah tangga (IRT) asal Desa Sintung Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) Inim alias SF, Sabtu, 13 Mei 2017 digelandang ke kantor desa. IRT ini untuk dimediasi dengan sejumlah warga Desa Manggong terkait adanya laporan dugaan ajaran sesat yang diajarkan SF kepada jemaah pengajian yang dipimpimnya.

Pertemuan itu dipimpin langsung Kepala Desa Sintung, L. Asrurolah, SPd, di bawah pengamanan ketat aparat kepolisian dari Polsek Pringgarata dan anggota TNI. Pasalnya, sebelum pertemuan tersiar kabar akan terjadi aksi main hakim warga kepada SF yang dinilai warga telah mencoreng nama baik desa.

Salah seorang korban, H. Muzaddikin, menuturkan awal dirinya mengikuti pengajian yang dipimpin SF tahun 2012 lalu. Kala itu, dirinya tertarik ikut pengajian, karena SF mengaku sebagai murid TGH. Sibawaih Jerowaru Lombok Timur (Lotim).

Namun sebelum resmi ikut pengajian, korban mengaku harus mengikuti ritual terlebih dahulu. Di mana korban diharuskan membawa beras, kain putih sepanjang 4 meter dan uang sebesar Rp 350 ribu. Setelah itu korban dimandikan oleh SF dengan menggunakan kain putih tersebut di kamar khusus.

Baca juga:  Utsawa Dharma Gita (UDG) Ke-XIV Tingkat Provinsi NTB Sukses Digelar

Hal senada  disampaikan Hj. Khusnul Khotimah. Menurutnya, setelah menjalani ritual mandi dirinya merasa kehilangan akal sehat. Padahal ajar-ajaran yang disampaikan tersebut sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam. Namun dirinya bersama jemaah lainnya tetap mengkuti ajaran tanpa bisa mengelak.

Akhirnya, setelah beberapa tahun mengikuti pengajian SF ia bersama suaminya mulai sadar setelah berkonsultasi ke sejumlah tokoh agama. Sampai akhirnya pengaruh ajaran tersebut mulai hilang dan akhirnya melaporkan perbuatan SF ke Pemerintah Desa Sintung.

SF membantah dirinya telah mengajarkan ajaran sesat. Dirinya tidak pernah melarang jemaahnya untuk melaksanakan salat lima waktu, maupun ibadah puasa. Apa yang diajarkannya hanya bentuk pelaksanaan ibadah tambahan saja. Kalau ibadah pokok tetap dan wajib untuk dilaksanakan.

Namun jawaban SF tidak membuat para korban dan warga lainya puas. Suasana pertemuan pun seketika berubah panas. Melihat situasi mulai tidak kondusif, kades memutuskan untuk menutup pertemuan dan berjanji akan menyerahkan kasus ini ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Loteng. Laporan ini untuk memutuskan, apakah ajaran yang disampaikan SF tersebut masuk ajaran sesat atau tidak.

Baca juga:  Utsawa Dharma Gita (UDG) Ke-XIV Tingkat Provinsi NTB Sukses Digelar

“Ada 10 kriteria suatu ajaran dinyatakan sesat atau tidak. Tapi nanti kita akan laporkan ke MUI kabupaten, untuk menyimpulkan. Karena yang berhak menyatakan ajaran itu sesat atau tidak ialah MUI,”  tambah penghulu KUA Pringgarata, Nasrullah. Nanti seperti apa keputusan MUI kabupaten, baru akan disikapi pihaknya. Usai mendapat penjelasan tersebut, warga berangsur-angsur membubarkan diri.

Terhadap SF dan keluarganya, Kapolsek Pringgarata AKP. Supyan Hadi, mengaku tidak ada pengamanan khusus. Namun demikian, pihanya tetap akan memantau situasi desa, terutama di sekitar tempat pengajian SF. “Kami sebatas memantau dulu. Kalau pengamanan khusus, sejauh ini belum akan dilakukan,”  tandas mantan Kasat Lantas Polres Loteng ini. (kir)