Tradisi Konvoi dan Corat-coret Tak Bisa Warnai Pengumuman Kelulusan

Tanjung (Suara NTB) – Seperti tahun-tahun sebelumnya, pengumuman kelulusan sekolah tingkat SMA disambut sumringah oleh para siswa, Selasa, 2 Mei 2017. Para siswa yang lulus sebagian kecilnya menggelar konvoi kendaraan roda 2 dengan baju seragam yang sudah dipermak aneka warna pylox.

Pemandangan konvoi sudah terlihat sejak pagi. Di pertigaan jalan raya masuk ke SMKN 1 Gangga, terlihat sejumlah siswa-siswi telah menyulap baju seragamnya menjadi “kanvas”. Mereka langsung mengarah ke pertigaan Lendang Bagian dan mengarahkan kendaraan roda dua tunggangannya ke arah timur menuju jalan raya Bayan.

Aktivitas konvoi tidak hanya terjadi di wilayah Kecamatan Gangga. Selasa sore, puluhan kendaraan melintas jalan protokol seberang Lapangan Tioq Tata Tunaq. Dengan knalpot bredelan, suara bising raung sepeda motor menyedot perhatian warga dan para pemilik toko. Siswa yang rata-rata menunggangi kendaraan KLX 150 dan KLX 250 Kawasaki, umumnya berboncengan.

Baca juga:  Gandeng Telkomsel, Amman Mineral Persiapkan 500-an Pelajar KSB Era Industri 4.0

Sebagian yang dibonceng adalah siswi perempuan dengan rok pendek dan berubah warna karena cat pylox. Kondisi ini seakan menandakan tidak adanya upaya dari pihak sekolah maupun Dikpora KLU untuk menvegah aksi konvoi, corat-coret, hingga mencegah kemungkinan kecelakaan di jalan raya di kalangan alumni SMA/SMK.

Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah Layanan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus-Pendidikan Layanan Khusus (UPTD Layanan Dikmen dan PK-PLK) Kabupaten Lombok Utara (KLU), Dr. Lalu Basuki Rahman kepada wartawan mengakui adanya upaya pencegahan aksi corat-coret dan konvoi. Pihaknya mengarahkan agar sekolah membagikan hasil pengumuman ujian nasional pada sore hari. Siswa pada prinsipnya tidak diizinkan mengambil hasil kelulusan menggunakan seragam sekolah.

Lebih lanjut, Basuki juga mengakui sudah meminta sekolah-sekolah untuk mengumumkan ujian seunik mungkin guna menghindari corat-coret, termasuk mengarahkan siswa menggunakan kebaya, batik atau mengadakan prosesi layaknya wisuda. Hanya saja, pihaknya belum mencermati apa penyebab sekolah mengindahkan imbauan tersebut.

Baca juga:  Gandeng Telkomsel, Amman Mineral Persiapkan 500-an Pelajar KSB Era Industri 4.0

Aksi konvoi dan corat coret baju seragam sekolah juga terjadi di Lombok Timur (Lotim). Padahal Dinas Dikbud NTB melalui Unit Layanan Dikmen dan PK-PLK kabupaten/kota sudah melayangkan surat imbauan terhadap semua sekolah untuk tidak dilakukannya aksi tersebut.

Kepala UPTD Layanan Dikmen dan PK-PLK Lotim, Saiful Islam menyayangkan adanya siswa yang melakukan aksi corat-coret dalam merayakan kelulusan SMA/SMK sederajat di Kabupaten Lotim. Selain itu, konvoi dengan menggunakan sepeda motor juga masih terlihat disejumlah ruas jalan di Lotim.

“Kita sangat sayangkan sikap dari para siswa ini, padahal dari pidato saat perpisahan serta surat kepada pihak sekolah untuk melarang siswa melakukan aksi itu (konvoi dan corat-coret) baju seragam sudah kita layangkan, tapi masih saja terjadi,” ungkapnya, Selasa, 2 Mei 2017. (ari/yon)