Pengembangan Kawasan Sakosa Dipertanyakan

Bima (Suara NTB) – Pengembangan wisata di kawasan Sangiang Komodo dan Sape (Sakosa) yang diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten Bima beberapa waktu lalu, dipertanyakan  warga khususnya yang berada di Kecamatan Lambu.

Ketua Komite Nasional Pembentukan Bima Timur (KNPBT), Jasmin Malik, S.Pd, kepada Suara NTB, Jumat, 7 April 2017 mengatakan, selain tidak disosialisasikan kepada masyarakat setempat, pemberian nama Sakosa juga dinilai terkesan eksploitatif.

Karena menurut Jasmin, hampir destinasi wisata yang ada di kawasan tersebut, yang akan dikembangkan dan dipromosikan. Sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Lambu, salah satunya Pulau Kelapa.

“Sementara dalam pengembangannya justru nama Lambu tidak ada. Padahal sebagian besar destinasi wisata ada di Kecamatan Lambu,” ujarnya.

Ia menginginkan penamaan Sakosa, dipertimbangkan dan ditinjau kembali oleh Pemerintah. Atau altenatifnya menggantikan dengan nama lain, misalnya Gilibanta. Hal itu diyakini representatif dari seluruh potensi yang ada, seperti Pulau Sangiang, Pulau Komodo dan Pantai Kelapa.

Baca juga:  Dewan Perdagangan Islam Malaysia Jajaki Kerjasama dan Investasi di NTB

“Lagipula momentum ini, kami ingin citra Kecamatan Lambu kembali baik lewat jualan brand ini. Jangan seperti pepatah “Sapi punya Susu, Kerbau punya nama. Pemerintah harus telitilah dan bijak,” katanya.

Jasmin mengaku, penolakan tersebut juga didukung oleh seluruh Pemerintahan Desa dan Kecamatan Lambu, karena ada desakan dari masyarakat. Bahkan sudah disampaikan kepada Pemerintah Daerah.

“Namun hingga saat ini belum ada hasilnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, pihaknya beserta pemerintah Desa dan Kecamatan akan mendatangi langsung SKPD terkait, untuk mempertanyakan kejelasan penamaan Sakosa, serta dampaknya bagi masyarakat lokal dalam waktu dekat.

Baca juga:  NTB Diburu Investor

“Soal ini akan kami atensi serius. Yang jelas, atas nama warga Lambu kami keberatan dan menolak program Sakosa ini,” katanya.

Kepala Bappeda Kabupaten Bima, Drs. H. Muzakkir, M.Sc, beberapa waktu lalu mengaku, program Sakosa adalah sebuah pengembangan pariwisata baru untuk melirik investor dan wisatawan berkunjung ke Bima.

“Kawasan ini sangat strategis secara geografis sebagai daerah transit di antara tiga destinasi pariwisata dunia, yaitu Bali, Lombok dan Komodo,” katanya.

Bahkan program Sakosa telah dipresentasikan oleh Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti, pada sebuah acara Seminar Nasional tentang Pariwisata di Jakarta, yang digelar oleh Kementerian Pariwisata dan pihak swasta di dunia pariwisata, belum lama ini. (uki)