Dilaporkan ke Polisi oleh Pendukung TGB, Pemilik Akun Ini Ternyata Selebritas

Mataram (suarantb.com) – Salah seorang pemilik akun media sosial memberikan reaksi balik setelah sejumlah tim pembela TGB yang tergabung dalam Tim Pembela Gerakan Pribumi Berdaulat, melaporkan akun tersebut ke Polda NTB.

Cyril Raoul Hakim, pemilik akun twitter @chicohakim memberikan reaksi balasan dengan menuliskan kalimat, “Kalian semua masuk DPO tim saya”, sembari membagikan cuitan sebelumnya yang memuat nama-nama pelapor akun media sosialnya. Nama-nama yang disebut dalam cuitan Cyril itu adalah Mahsan, Hadi Muchlis, Martayadi, Djuliansyah, Wahidjan, Sukirsa Wire, H. Purbo, M. Haerudin, Oke Wiradarma, S. Bakti dan Husnan Wadi.

Cyril sebagai salah seorang pemilik akun yang dilaporkan, sebenarnya bukan nama yang asing. Ia pernah terlibat hubungan asmara, bahkan pernikahan dengan sejumlah selebritis wanita di negeri ini. Ia pernah membina rumah tangga dengan Wanda Hamidah. Keduanya menikah pada 2001 dan bercerai pada 2012 lalu. Selepas Wanda, Cyril juga dikabarkan terlibat hubungan asmara dengan selebritas wanita lainnya, yaitu Yuni Shara.

Tim Pembela Gerakan Pribumi Berdaulat sebelumnya telah melaporkan akun Cyril, @chicohakim bersama sejumlah akun media sosial lainnya ke Polda NTB. Sebagian akun tersebut dilaporkan karena menyebutkan insiden penghinaan terhadap TGB sebagai sesuatu yang fiktif. Sebagian lainnya karena menyebutkan oknum yang menghina TGB adalah tokoh rekaan semata.

“Ada juga akun twitter yang kami laporkan itu mengatakan Steven tidak pernah ke Singapura. Jadi dua hal yang kami

laporkan hari ini, tentang Steven yang fiktif dan peristiwanya yang fiktif,” ujar Hadi Muchlis usai melaporkan kasus ini, beberapa waktu lalu.

Terkait reaksi balik dari Cyril Raoul Hakim, Abdul Hadi Muchlis saat ditemui suarantb.com Kamis, 27 April 2017 menanggapi santai cuitan tersebut. Menurutnya ia hanya menyampaikan laporan berdasarkan aduan keberatan masyarakat atas cuitan akun tersebut sebelumnya. Kalaupun pemilik akun keberatan terhadap laporannya tentu ada cara-cara yang lebih elegan dan sesuai koridor hukum.

“Dengan membuat pernyataan yang seperti itu akan menimbulkan masalah baru bagi dia,” ungkapnya sembari menunggu untuk diperiksa sebagai pelapor di Polda NTB.

Ia menambahkan cuitan itu bisa dikategorikan suatu ancaman yang dilakukan oleh orang yang merasa memiliki kekuasaan. Menurutnya hal itu tidak dibenarkan secara hukum.

Ia mengaku belum melihat cuitan itu secara langsung. Ia mengetahui informasi tersebut dari salinan yang beredar. Pihaknya akan mempelajari cuitan itu dan meminta tanggapan dari orang lain yang disebut namanya apakah keberatan atau tidak.

“Kalau mereka keberatan tentu akan menjadi masalah baru bagi dia” ujarnya. Muchlis mengaku santai saja menanggapi cuitan itu. Sebagai pengacara ia mengaku telah terbiasa dengan ancaman seperti itu. Namun ia tidak mengetahui apakah orang lain yang disebut namanya keberatan atau tidak. (bur)