Tenun Nggoli Bima Menyerbu Pasar Dompu

Jpeg

Dompu (Suara NTB) – Rencana pemda Dompu untuk kembali memecahkan rekor baru di Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk penggunaan sarung tenun Nggoli tidak mampu dipenuhi perajin lokal Dompu. Momen ini justru dimanfaatkan perajin Bima untuk menyerbu pasar tenun Nggoli dengan keluar masuk kantor pemerintah.

Zuhra, warga Desa Roi Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima yang menjajakan sarung Nggoli di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, Rabu (22/3/2017) mengungkapkan, sudah tiga hari ini dirinya menjajakan sarung Nggoli di sejumlah kantor milik pemerintah di Dompu. Sudah 70 lembar sarung yang berhasil terjual seharga Rp 200 ribu hingga Rp 220 ribu per lembarnya. Sarung yang ditawarkan pun sudah dijahit membentuk sarung, sehingga bisa langsung digunakan.

Tidak hanya Zuhra yang menjajakan sarung Nggoli ke warga Dompu, tapi ada beberapa penjual lainnya yang datang dari Bima. Para pedagang ini mengambil moment Hari Jadi Kabupaten Dompu yang bertepatan dengan Festival Pesona Tambora (FPT) dan rencana pemecahan rekor Muri untuk tarian massal Saremba Tembe dan rekor baru untuk parade Katente dan Saremba Tembe. Kedua rekor yang ingin dipecahkan ini, semuanya harus menggunakan sarung Nggoli yang merupakan sarung khas warga Bima dan Dompu. Karena yang membedakan sarung khas kedua daerah ini berada pada motifnya.

Baca juga:  Niken Zulkieflimansyah Raih Penghargaan Pembina Dekranasda Terbaik Nasional

Perajin tenun Nggoli di Dusun Saka Desa Mangge Asi Dompu, Sri Rahma yang dihubungi di kediamannya, mengaku, untuk event FPT 2017 dengan beberapa agendanya termasuk rencana pemecahan rekor Muri-nya permintaan sarung Nggoli baru 100 lembar. Itupun sudah semuanya diambil dan berasal dari dinas/instansi pemerintah. “Sejauh ini kita baru 100 lembar itu saja,” katanya.

Sri Rahma mengaku, tidak mampu menyiapkan sarung Nggoli dalam jumlah besar, apalagi dalam waktu yang relatif singkat. Selain karena modal yang tidak ada, alat dan tenaga juga tidak siap. Pihaknya masih menggunakan alat tenun tradisional yang membutuhkan waktu hingga enam hari untuk menenun 1 lembar sarung. “Kendala terbesar kami pada modal. Makanya kami jarang siapkan stok yang banyak. Yang pesan itu dari instansi pemerintah dan mereka langsung serahkan uang muka untuk kita pakai beli benang,” jelasnya.

Baca juga:  Niken Zulkieflimansyah Raih Penghargaan Pembina Dekranasda Terbaik Nasional

Mereka pun sempat bertanya – tanya sumber sarung yang akan digunakan warga untuk memecahkan rekor Murri. Apalagi sarung yang dibutuhkan tersebut mencapai puluhan ribu lembar. Sementara kelompok perajin tenun di Dompu saat ini hanya empat kelompok yaitu di Saka, Ranggo, Wawonduru, dan di Madaprama. “Anggota saya juga bertanya – tanya, dari mana sarung yang dipakai orang (peserta). Ini pasti diambil di Bima. Karena mereka di sana (Bima), banyak perajin,” akunya. (ula)