Meroketnya Harga Cabai Karena Permainan Harga

Mataram (Suara NTB) – Meroketnya harga cabai dalam tiga bulan terakhir ini disebut karena adanya permainan harga, bukan terbatasnya stok di daerah. “Bukan stok kalau (menurut) saya, permainan harga. Katakanlah kalau bahasanya Ibu Kepala (Dinas Perdagangan) Provinsi itu, ada kartel yang mempermainkan harga. Karena dari sisi stok ada barangnya,” jelas Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Ir. H. Mutawalli, MM kepada Suara NTB ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 9 Maret 2017.

Harga cabai di Mataram sempat mencapai Rp 200 ribu per kilogram. Namun Mutawalli mengatakan berdasarkan hasil pantauannya di empat pasar tradisional, harga cabai di Kota Mataram saat ini khusus untuk kualitas super telah turun yaitu rata-rata Rp 150 ribu sampai Rp 165 ribu per kilogram.

Mutawalli menegaskan daerah khususnya Kota Mataram tak pernah kekurangan stok. Hanya saja stok cabai kemudian dikirim ke luar daerah atau luar NTB, termasuk juga dari petani Kota Mataram.

Baca juga:  Gubernur Minta Tambahan 100 Ribu Ton Semen

“Di sini buktinya ada cabai dan banyak. Cuma persoalannya dikirim ke Jakarta itu. Karena begini, misalnya di Jakarta sudah Rp 200 ribu (harga per kilogram cabai), di sini mintanya

Rp 150 ribu lalu dipasang harga lebih tinggi dari itu. Kalau mau Rp 150 ribu saya tinggalkan, kalau ndak saya kirim ke Jakarta, kan begitu saja (kata pengepul). Akhirnya separuh dikirim separuh ditinggal dengan harga yang ditetapkan pengepul itu. Kalau stoknya aman, makanya saya bingung,” jelasnya.

Menurut Mutawalli kondisi tingginya harga cabai yang terjadi dalam tiga bulan ini tak lagi normal. Biasanya harga cabai mahal hanya dalam kurun waktu sebulan seperti yang terjadi tahun lalu. Panen cabai oleh petani di Kota Mataram masih tetap berlangsung, namun barangnya tidak beredar di pasar-pasar tradisional. “Kalau produksi ada, cuma barangnya di pasar ndak ada. Mereka langsung kirim,” jelasnya.

Baca juga:  Kenaikan Harga Semen, Polda NTB Siapkan Sanksi Distributor Nakal

Terkait pengendalian pengiriman ke luar daerah, Distan Kota Maaram tak memiliki kewenangan. Pasalnya kewenangan instansinya disebutkan Mutawalli hanya berkaitan dengan produksi. Ketika cabai telah beredar di pasar, maka akan menjadi kewenangan Dinas Perdagangan.

“Kami di produksi berusaha mengatur produksi tetap stabil. Tidak melonjak pada suatu saat dan menghilang pada satu saat yang lain. Itu tugas kami, maka adalah program cabai nasional itu, yang semua daerah dapat seperti kita itu,” jelasnya.  (ynt)