Penjelasan Bupati KLU Soal Mobil Masuk Gili Trawangan

Tanjung (Suara NTB) – Keberadaan 2 unit mobil pick up yang masuk ke Gili Trawangan kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, kawasan wisata 3 Gili di Kabupaten Lombok Utara (KLU) itu telah lama dijaga agar terbebas dari polusi kendaraan bermesin.

Menanggapi beragam kritik publik itu, Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH. MH., Kamis, 23 Februari 2017 mengungkapkan, keberadaan mobil pengangkut sampah di Trawangan semata-mata untuk menangani persoalan sampah yang selama ini dikeluhkan.

Mengatasi persoalan sampah yang kompleks, tidak bisa hanya dengan menggunakan cidomo. Sehingga untuk membantu proses pengangkutan 2 gerobak, Pemkab dan masyarakat sepakat untuk mem-back up dengan kendaraan bermesin.

“Ini merupakan obat, meskipun pahit tapi untuk menyembuhkan. Gerobak tidak bisa mengatasi 18 ton sampah per hari yang dihasilkan di Gili Trawangan,” kata Najmul kepada wartawan.

Baca juga:  Ribuan Orang Terpapar Asap Kebakaran TPA Kebon Kongok

Dikatakan bupati, keberadaan mobil angkut sampah tidak lepas dari keinginan masyarakat setempat. D imana masyarakat Trawangan beranggapan armada cidomo yang ada belum cukup untuk mengangkut sampah dari hotel dan rumah warga ke TPA sewa. Dengan dasar itu pula, Pemkab dan

Pemdes Gili Indah sepakat jika armada kendaraan dimasukkan ke Trawangan.

Menurutnya, apabila keberadaan mobil dianggap menjadi solusi, maka penting bagi semua elemen untuk merubah mindset berpikir tentang sampah. Sebab tidak hanya asap kendaraan, sampah juga merupakan polusi yang dampaknya cukup merepotkan. “Kita harus perbarui mindset apa itu polusi, sampah itu juga polusi,” imbuhnya.

Diakui atau tidak, stigma polusi tetap akan melekat pada kendaraan angkut bermesin yang telah dimasukkan ke Trawangan. Seiring perjalanan, pihaknya akan berupaya agar terdapat solusi lain yang lebih representatif.

Baca juga:  Pemadaman Habiskan Rp750, Kebakaran TPA Kebon Kongok Jadi Pembelajaran

Perkiraaan kendaraan angkut sampah akan mengganggu kenyamanan berwisata, tambah Najmul Akhyar akan disesuaikan. Ia telah meminta jajarannya untuk mendesain pengangkutan sampah agar tidak sampai mengganggu aktivitas warga, pengusaha dan wisatawan.

Najmul mencontohkan, teknis angkutan akan diatur pada jam-jam sepi dari aktivitas yakni pada jam 8 pagi atau bahkan sebelum itu. Pada waktu itu, wisatawan asing kebanyakan masih berada di penginapan, sehingga mereka juga tidak akan merasa terganggu.

Selain pada pagi hari, alternatif pengangkutan sampah juga bisa dilakukan pada tengah malam saat seluruh Trawangan sepi dari aktivitas. (ari)