Syahra, Bocah yang Lahir Tanpa Lubang Anus

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Sungguh malang menimpa Syahra Aljannah, bocah berusia 5,3 tahun yang beralamat di RT 03 RW 11 Dusun Bangkong, Desa Karang Dima, Kecamatan Labuhan Badas. Putri pertama dari A. Rahim dan Lunmi ini lahir dengan kondisi fisik tidak sempurna, lahir dengan kondisi tanpa lubang anus.

Syahra lahir pada 3 Oktober 2011 lalu di rumahnya saat itu. Namun kondisinya semakin memburuk dengan perut yang mengembung. Kondisi inipun membuat orang tuanya khawatir sehingga dibawa ke rumah sakit.

“Saat lahir kami melihat kondisinya yang tidak sempurna. Ternyata dia tidak memiliki lubang anus. Semakin hari perutnya semakin kembung. Makanya kita bawa ke rumah sakit. Tepat dihari ketiga setelah lahir dilakukan operasi. Sehingga dia bisa buang air besar. Kalau itu tidak dilakukan, mungkin dia sudah meninggal saat itu,” ujar paman Syahra, Rahmat Hidayat, kepada Suara NTB, Rabu, 1 Februari 2017.

Saat dikunjungi, kondisi Syahra dalam keadaan usus terburai. Ususnya dibungkus menggunakan kapas dan plastik untuk menampung kotoran Syahra.

“Setiap buang air besar, pembungkus itu kami ganti. Dan tetap dioleskan menggunakan obat. Itupun hanya saya dan bapaknya yang bisa mengganti,” tambah Sahema, nenek Syahra.

Untuk keperluan obat dan pengganti bahan pembungkus usus Syahra, keluarga menghabiskan uang sekitar Rp 500 ribu per bulan. Hal itu dilakukan semenjak perutnya dioperasi. Kini Syahra selalu dalam pengawasan pihak keluarganya. Ia tidak bisa bermain dengan rekan sebayanya. Karena dikhawatirkan akan mengganggu ususnya yang terburai.

Meskipun demikian, Syahra terlihat ceria. “Kami takut kalau dia main dengan temannya kondisinya semakin parah,” beber Ahmad, kakeknya.

Pihak keluarga tetap mengapresiasi tenaga kesehatan yang ada di susun setempat yang tetap mengunjungi. Termasuk menyarankan terkait pengobatannya. Bahkan baru-baru

ini pihak Puskesmas, dinas kesehatan, dan Camat juga sempat mengunjungi.

“Sering juga dengan tenaga kesehatan di sini. Kemarin juga pak camat dengan orang Puskesmas datang mengunjungi. Katanya akan diupayakan untuk Syahra,” lanjut Ahmad.

Kini Syahra membutuhkan operasi untuk membuat lubang anus serta penyambungan ususnya. Tetapi apalah daya, kondisi keuangan yang tidak mencukupi, membuat keluarga pasrah. Ibu Syahra pun harus mengadu nasib ke luar negeri untuk mencukupi biaya pengobatannya. Sambil berharap adanya uluran tangan dari sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah (pemda) terhadap biaya operasinya.

“Kata dokter saat itu, masih perlu dioperasi sebanyak dua kali. Untuk pembuatan lubang anus dan disambung ususnya. Tapi kami tidak memiliki uang yang cukup. Apalagi operasi itu harus ke Bali,” tukasnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan melalui Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat, dr. Nieta Ariyani yang dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 1 Februari 2017 menyebutkan, kasus atresia ani (tidak memiliki lubang anus) menimpa Syahra.

Dilihat dari kondisi Syahra, kemungkinan sudah pernah dilakukan operasi sebelumnya. Hanya saja perawatan yang kurang bagus, sehingga ususnya keluar lebih banyak.

Mengenai Syahra, pihaknya bersama pihak Puskesmas dan camat sudah turun langsung melihat kondisi Syahra. Tim kesehatan juga sudah mengurus administrasi kesehatan anak tersebut untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Pihaknya juga akan tetap berupaya melakukan pemantauan. Termasuk berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk tindaklanjut dari penanganan Syahra. Bahkan pihak DCF yang kebetulan memiliki kegiatan kemanusiaan terhadap hal seperti ini juga sudah menghubunginya untuk tindaklanjutnya.

Selain itu juga akan berupaya menyampaikannya kepada pemerintah daerah. “Kami juga diberikan solusi oleh dinas sosial untuk mencoba memasukkan surat ke Pemda. Yang bisa kita lakukan sekarang untuk tindakan segera,” tukasnya. (ind)