Demam Berdarah Mengancam, Tim Gerak Cepat Dibentuk

Advertisement

Selong (Suara NTB) -Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini menjadi momok bagi masyarakat. Pasalnya, tidak sedikit masyarakat di NTB maupun di Lombok Timur (Lotim), harus menjalani perawatan medis di rumah sakit maupun di puskesmas lantaran diserang DBD.

Ironisnya lagi, masyarakat yang digigit nyamuk jenis aedes aegypti ini ada yang meninggal dunia. Dalam menyikapi persoalan ini, Puskesmas Lendang Nangka Kecamatan Masbagik terus memaksimalkan peran Tim Gerak Cepat (TGC) sebelum nyamuk mematikan itu menyerang warga.

Dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa, 24 Januari 2017, Kepala Puskesmas Lendang Nangka, Siti Sulatin, SKM, mengungkapkan, selama tahun 2016 hingga awal tahun 2017 ini belum tercatat adanya masyarakat yang dirawat di Puskesmas Lendang Nangka positif mengidap penyakit DBD. Melainkan, katanya, hanya ada beberapa pasien yang terdeteksi suspect DBD.

“Positif DBD belum ada dirawat, hanya suspect DBD, itupun hingga saat ini masih terkendali,” terangnya.
Terkait keberadaan Tim Gerak Cepat (TGC) di Puskesmas Lendang Nangka ini, lanjutnya terdiri dari 7 personel yang berperan untuk memberikan perhatian penuh terhadap kesehatan lingkungan masyarakat, melakukan promosi kesehatan (promkes), penyuluhan serta sejumlah agenda lainnya dalam mencegah terjadinya DBD dengan secara langsung melibatkan masyarakat dalam penanganan di lapangan.

Oleh sebab itu, sambungnya, dengan dilakukannya penyuluhan serta melibatkan peran aktif masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan. Maka diyakininya sangat kecil kemungkinan dapat timbulnya DBD di tengah-tengah masyarakat. Adapun, untuk pelaksanaan fogging di tahun 2016 sudah dilakukan di beberapa titik, khususnya di wilayah kerja Desa Lendang Nangka, yakni di Desa Lendang Nangka Induk dan di Desa Kumbang.

Sementara, untuk wilayah kerja Desa Lendang Nangka ini sebanyak lima desa, di antaranyanya Desa Lendang Nangka Induk, Desa Kumbang, Desa Lendang Nangka Utara, Desa Danger, Desa Kumbang serta Desa Kesik.

Koordinator TGC, Multazam, S.Kep, juga menyampaikan, selain TGC terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat. TGC juga menyisirkan sekolah-sekolah untuk dilakukannya sosialisasi maupun penyuluhan terhadap sekolah. Langkah itu dilakukan untuk menjadikan siswa sebagai juru pantau dari jentik nyamuk DBD baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Agenda ini, katanya, secara rutin dilakukan untuk terus meningkatkan kesadaran warga sekolah maupun masyarakat pada umumnya untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan serta memiliki kesadaran dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menerapkan pola 3M itu.  (yon)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.