Politisi Demokrat Dukung Pemberlakuan UU ITE

Advertisement

Mataram (suarantb.com) – Undang-Undang ITE yang baru-baru ini diberlakukan pemerintah mendapat apresiasi dari kalangan DPRD NTB. Hal itu tidak lepas dari kenyataan tindakan kejahatan berbasis media elektronik yang semakin marak akhir-akhir ini. Selain itu, UU ITE dinilai akan mampu membatasi sikap negatif masyarakat dalam menggunakan media sosial.

Demikian disampaikan Anggota Komisi I DPRD NTB yang membidangi masalah Hukum dan Pemerintahan, H. M. Rais Ishak kepada wartawan, Selada, 6 Desember 2016. Menurut Rais Ishak, ketika pemerintah tidak membuat batasan berupa payung hukum terhadap pengguna media elektronik, maka sangat rentan terjadi tindakan-tindakan di luar batas kewajaran. Baik dari aspek yuridis maupun dari aspek moral masyarakat.

“Saya kira kita sepakat ya undang-undang ITE ini, karena banyak sekali yang saling fitnah kalau kita lihat, di facebook apa itu,” ujarnya.

Menurut Rais Ishak, dengan diberlakukannya UU ITE tersebut, maka masyarakat pengguna media elektronik tentu akan lebih hati-hati, baik dalam mengunggah maupun membuat konten-konten yang mengarah kepada pelanggaran hukum.

“Dengan begitu kan ada pembatas sehingga jangan sampai saling fitnah saling hujat terjadi di media sosial,” katanya.

Terlepas dari persoalan hukum tersebut, Politisi Partai Demokrat NTB ini juga mengharapkan agar masyarakat pengguna media sosial khususnya lebih memperhatikan kaidah-kaidah ketimuran yang berlaku di masyarakat kita. Budaya ketimuran yang menjunjung tinggi etika dan moral harusnya di kedepankan dalam melakukan aktivitas apa pun, termasuk ketika melakukan aktivitas di media sosial elektronik.

“Janganlah kita saling memprovokasi di sana. Ini kan tidak baik. Kita gunakan media sosial itu sebagai alat silaturahmi,” harapnya.

Menurut Rais Ishak, akan sangat berguna ketika kemajuan teknologi informasi tersebut dimanfaatkan secara bijak oleh masyarakat. Terutama dalam menjalin silaturahmi yang positif. Karena tidak bisa dipungkiri di tengah kesibukan bekerja, akan sulit untuk bertemu langsung secara fisik. Dan media sosial menjadi salah satu sarana yang bisa menggakomodir pertemuan tersebut. Oleh sebab itu, lanjut Rais Ishak, dalam menggunakannya, jangan sampai keluar dari norma-norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

“Coba kalau media sosial itu digunakan untuk menjalin silaturahmi, karena kita kan tidak bisa bertemu secara langsung setiap saat. Tapi kalau seperti sekarang, kita kan jadi malas kadang-kadang untuk buka,” tandasnya. (ast)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.