Ali BD Minta Kebijakan Menteri Susi Ditinjau

Selong (Suara NTB) – Bupati Lombok Timur (Lotim), H. Moch Ali Bin Dachlan meminta agar kebijakan pelarangan penangkapan baby lobster atau benur oleh Menteri Kelautan dan Perikanan ditinjau kembali. Malahan, bupati meminta nelayan tetap menangkap baby lobster dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kepada nelayan di Desa Ketapang Raya Kecamatan Keruak, Sabtu, 26 November 2016, mengaku tidak setuju pelarangan dari Menteri Kelautan dan Kelautan terhadap para nelayan. “Harus ada uraian yang jelas kenapa dilarang,” katanya.

Diakuinya, lobster satu kali bertelur jumlahnya ribuan. Jika tidak ditangkap, maka ribuan benih lobster itu akan mati percuma di tengah perairan, karena tidak ada yang memelihara. Menurutnya, penangkapan dan penjualan baby lobster itu akan melestarikan lobster. “Kita sebenarnya beruntung ada nelayan yang menangkap,” katanya.

Larangan menteri, lanjutnya memang ada alasan untuk rakyat. Akan tetapi, larangan itu hanya berlaku bagi negara yang sudah maju. Bukan untuk  negara berkembang seperti Indonesia.

Adanya penangkapan sejumlah orang yang diduga menjual lobster itu, seharusnya tidak perlu terjadi. Prinsipnya, siapa yang menemukan baby lobster itulah yang punya, sehingga bisa untuk dikonsumsi ataupun dijual. Di samping itu, menteri, gubernur dan bupati tidak menjaga baby lobster terus menerus.

Dalam melakukan kegiatan budidaya. Harus dibarengi dengan pengetahuan. Hitung-hitungan secara ekonomis untung ruginya harus dibaca dan dianalisa sebaik mungkin.

Sementara Kepala Desa Ketapang Raya Kecamatan Keruak Lotim Sayid Zukifli menyebut, di desanya ini terdapat 30 orang saat ini menjadi pembudidaya lobster. Sebelumnya, semua nelayan menangkap baby lobster dan dijual. Akan tetapi, sekarang melakukan budidaya saja dan harus menunggu lama baru bisa memperoleh uang. Beda dengan saat dibolehkan menjual langsung, nelayan bisa memperoleh langsung uang tunai. Potensi lobster di perairan Ketapang Raya sangat luar biasa. ‘’Banyak lobster hasil tangkapan nelayan dan langsung dibudidayakan,’’ klaimnya. (rus)